Kamis, 18 Oktober 2012

KESETIAAN SEORANG WANITA



“KESETIAAN SEORANG WANITA”

Kategori     : Cerita Bersambung
Karya         : Priincesse Vha Calista
Tanggal      : 24 Januari 2011


Di sebuah desa yang asri, di sebuah rumah tua, ada seorang gadis remaja yang hidup sederhana bersama kedua orang tua dan dua saudara kandungnya. Nama gadis itu adalah Fidelia Shofhah, panggil saja Delia. Dia berumur 18 tahun dan masih duduk dibangku kelas 3 SMA. Dia gadis yang kuat, ceria, ramah, suka senyum, baik, setia dan penyayang.
Cerita ini tidak hanya mengisahkan kehidupan dia saja tapi intinya menceritakan kisah cintanya. Oke, lanjut!! J
Cerita berawal pada suatu pagi. Hari itu Minggu tanggal 16 Desember 2007. Pagi itu, ketika bangun tidur Delia di panggil ibunya untuk menemani membeli sayur di warung. Sayup-sayup Delia mendengar ibunya bercerita kepada tantenya, bahwa di desa itu sedang ada pembangunan semenisasi jalan.
“Delia… temani ibu beli sayur untuk makan siang…” Ibu memanggil Delia.
Delia menuruti kata ibunya. “Jalan tanjakan itu sedang di semenisasi. Ibu lihat sudah di patok.”
Delia diam sambil menjawab “Oo…”
Ketika melewati jalan tersebut, tanpa disengaja Delia melihat seorang pria yang tampak lebih bersih dan berkulit terang dibandingkan temannya yang lain. Awalnya ibu mengira pria itu adalah mandornya. Saat melewati kumpulan para pekerja itu, tanpa disangka si pria tersebut mencoba menyapa Delia. Sambil tersenyum dan mengangguk, Delia menjawab “Iya...” seperti biasa, Delia hanya bisa tersenyum manis. Dan hari itu dia memberikan senyum termanis dari bibir mungilnya sebagai bentuk kekagumannya pada pria tampan itu. J
Cerita tidak berhenti disitu. Detik berubah menit, menit berganti jam, entah perasaan dari mana Delia mulai tertarik dengan pria tersebut.
Keesokan harinya, saat Delia disuruh belanja ke toko, dia bertemu dengan pria itu lagi. Pria itu bertanya pada Delia, “Siapa namanya, Dek..?” dengan tersipu malu Delia tersenyum tanpa memberi tahu siapa namanya.
Pada saat itu, sepupu Delia mengatakan namanya dengan suara keras. Dengan begitu pria dan teman-temannya langsung mengetahui nama Delia. Sore harinya, ditempat yang sama. Pria tadi memanggil Delia.
“Dek, sini sebentar…” pria berlari menuju Delia.
“Nanti malam ketemuan, yuk. Kalau gak hujan. Ntar adek jemput kesini.” Pria itu mengajak Delia ketemuan malam itu.
“Iya sudah, ntar datang ja kerumah. Gampang kog cari rumahnya.” Delia berkata sambil menunjukkan arah jalan kerumahnya.
“Tapi kan aku gak tau.”
“Iya deh, ntar saya jemput.” Delia berkata sambil pamitan mau pulang karena hari sudah sore.
Malam itu hujan turun tidak begitu deras, tapi Delia tidak berani untuk keluar menemui pria itu. Keesokan harinya, di jam yang sama Delia melewati jalan itu lagi, dan berkata kepada pria tersebut.
“Kenapa tadi malam gak jadi...?”
“Kan hujan….” Pria itu menjawab santai.
Jam menunjukkan pukul 12.00 wib, saat itu Delia berada ditempat dimana para pekerja jalan itu melepaskan penat. Ketika itu, pekerjaan mereka sudah hampir selesai hanya tinggal sekitar 2 meter jalan yang akan diperbaharui. Ternyata pria tersebut ingin ngobrol lagi dengan Delia.
Dibawah pohon yang rindang, pria mengajak Delia untuk duduk berdua diatas kursi yang memang sudah ada di bawah pohon itu. Kini giliran Delia yang bertanya siapa nama pria tersebut.
“Abang, namanya siapa…? Abang belum bilang namanya.?”
“Kenapa gak tanya kemarin…?” pria menjawab. Dia mengambil sebuah ranting dan menuliskan namanya diatas papan tempat mereka duduk. Dengan terbata-bata Delia membaca tulisan pria itu.
“ W-i-r-a-E-r-v-a-n-t-h-e”
“Wira Ervanthe” pria itu membenarkan kata-kata Delia. (Dibaca : Wira Ervant)
“Namanya bagus…” Delia tersenyum.
Delia merasa nyaman berada didekat pria tersebut. Mereka berbicara banyak. Seolah-olah mereka sudah saling kenal sebelumnya. Waktu yang singkat itu sudah membuat Delia merasakan bahagia. Dia tidak mau kehilangan pria itu. Sayangnya, Delia tidak bisa berlama-lama menemani pria itu ngobrol. Sebelum Delia beranjak pergi, pria itu menahannya sambil berbisik.
“Tunggu dulu. Nanti kalau kesini bawakan pulpen, ya”. Pria itu berkata.
“Untuk apa?”
“Udah ntar bawa ja.”
“Pake kertas juga?”
“Gak..” candanya. “Biasanya kalau mau nulis diatas kertas. Atau ntar nulisnya di dinding ja..?”
“Iya deh.” Delia berlalu meninggalkan pria itu.
Sesampai dirumah Delia langsung mengambil kertas dan menyembunyikan kedalam saku celananya. Hari itu, ibu Delia mengalami luka pada bagian kakinya akibat sabetan parang. Delia berinisiatif membelikan hansaplast untuk membalut luka ibunya. Delia tergesa-gesa karena sudah tidak sabaran untuk ketemu pria itu lagi dan memberikan kertas dan pulpen padanya.
Di toko itu, Delia memberikan kertas dan pulpennya kepada Ervant. Delia penasaran apa yang akan dituliskan pria itu di kertas tersebut. Setelah selesai, pria itu melipat kertasnya dan memberikan kepada Delia sambil berkata.
“Janji ya, sampai rumah baru dibuka.”
“Ya. Emangnya nulis apa sih..?” Delia penasaran.
“Ntar tau juga.”
Delia pulang dengan memegang erat kertas itu seolah-olah takut kertas itu terbang atau sobek. Ditengah jalan, Delia makin penasaran dan membuka kertas tersebut, dengan hati berdebar-debar dia membaca tulisan itu. Serasa terkena embun dipagi hari, Delia memeluk kertas itu dan segera mempercepat langkahnya untuk pulang. Dirumah, setelah membalut luka ibunya, Delia langsung masuk kamar dan melihat tulisan itu. Ternyata Ervant menuliskan naman, tanggal lahir, dan nomor handphonenya.
Delia sangat senang. Dia membalas surat itu dengan hal yang sama, tapi dia tidak memberikan nomor handphonenya karena saat itu Delia belum memiliki handphone. Saat itu Delia sangat sedih karena dia tidak memiliki nomor handphone untuk Ervant.
Satu hari, dua hari berlalu. Kini jalan itu sudah selesai di perbaharui. Susah saatnya juga para pekerja itu kembali ketempatnya masing-masing. Termasuk pria tampan itu. Delia merasa sedih karena dia takut tidak bisa bertemu Ervant. Untuk terakhir kalinya Delia menemui Ervant, tidak peduli dengan keadaan sekitar. Sesampai ditempat Ervant. Delia langsung dipanggil Ervant lalu mengajak Delia duduk bersamanya.
“Mau kemana?” Ervant bertanya.
“Ya, mau kesini.” Jawab Delia.
Mereka kembali ngobrol tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang waktu itu memang sangat ramai dipenuhi oleh penduduk sekitar. Meskipun digodain oleh teman-teman Ervant, namun mereka tetap tidak peduli.
“Ada yang mau disampein?” Ervant bertanya pada Delia.
“Hmm… Apa ya…?” Delia kehabisan kata-kata.
“Oia…Boleh minta gak?” Ervant kembali bertanya.
“Minta apa….?” Delia balik bertanya.
 “Jangan dipanggil abang dounk.”
“Lalu dipanggil apa?” Delia pura-pura polos.
“Aku kan udah lama di Jawa dan gedenya juga di Jawa”
“Oo….mau dipanggil mas..?” Delia langsung tanggap.
“Nah…itu udah tau. Mas mahal, loh.” Kembali Ervant bercanda. Ervant lalu mengeluarkan KTP nya dan memperlihatkan kepada Delia.
“Tuh, udah nikah, kan?” Ervant memang suka bercanda. Dalam KTP itu, Delia melihat identitas Ervant yang tertulis jelas belum menikah sambil tersenyum. Iya, itu memang sifat Delia yang gampang tersenyum.
 “Ayo, ada yang mau dikatakan gak? Atau kasih pertanyaan aja”. lanjut Ervant.
“Mmmm….Masih mau kesini lagi, gak?” Delia bertanya.
“Mau…” Jawab Ervant cepat.
“Trus kalau kesini rencananya mau ngapain?” Delia bertanya lagi.
“Tergantung tujuan”. Ervant lalu melanjutkan, “Kenapa, sepertinya pengen kali mas balik kesini lagi.?” Giliran Ervant yang bertanya.
“Emangnya terlalu berharap, ya?” Delia salah tingkah.
“Gak juga sih. Boleh jujur gak?”
“Boleh…”
“Mas sayang adek.” Ervant mengungkapkan perasaannya yang membuat Delia terharu dan kembali salah tingkah. Ervant lalu beranjak dari tempat duduknya mengambil ransel pakaiannya. Sementara Delia masih terdiam dan terpaku ditempat duduknya. Delia merasa bahagia sekaligus bersedih. Bahagia karena telah menemukan cintanya dan bersedih karena harus berpisah dengan cinta yang baru didapatnya.
Ervant menjabat tangan Delia sebelum dia meninggalkan tempat itu. Setelah berpamitan, Delia berlari pulang kerumah sambil menangis yang bukan disebabkan kekecewaan, tapi menangis karena dia harus berpisah dengan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Keesokan harinya, Delia berusaha untuk menghubungi Ervant dengan meminjam HP temannya. Alhamdulillah, mereka bisa ngobrol lagi meskipun hanya sebentar. Dalam pembicaraan itu, Ervant mengulangi kata-katanya saat dia mengungkapkan perasaannya. Dalam obrolan itu,
“Adek kenapa, kog nangis kemaren? Tersinggung ma kata-kata mas?” Ervant memulai pembicaraan.
“Gak kenapa-napa kog. Cuma terharu ja.” Jawab Delia.
“Nah, trus gimana jawabannya?” Ervant kembali bertanya.
“Hmm…maunya gimana?” Delia balik betanya.
“Iya, itu terserah adek, mau jawab apa, mas juga gak maksa.”
“Bisa gak diulang kata-katanya?” Delia meminta Ervant mengulangi kata-katanya.
“Mas sayang adek”
“Apa..??? Gak jelas.” Delia berpura-pura tidak mendengar.
“Mas sayang adek….” Ervant mengulangi kata-katanya lagi.
“Iya, Delia juga sayang mas.” Delia menjawab dengan pasti.
“Mas mau bukti kalau adek memang sayang mas.”
“Bukti gimana?” Delia bingung.
“Adek harus melanjutkan sekolah, kalu bisa adek kuliah.” Ervant sangat peduli dengan pendidikan Delia. Maka dari itu Delia merasa ada yang beda dalam diri Ervant yang sangat peduli dengan masa depannya. Delia tidak mengambil negative dari perkataan Ervant. Yang dia tahu, Ervant benaran sayang padanya.
Malam itu menjadi malam yang sangat bersejarah buat Delia. Dia merasa kembali bersemangat. Memang sebelum dia bertemu Ervant, kehidupannya memang bahagia, apalagi setelah Ervant masuk kedalam hidupanya. Delia merasa hidupnya sangat sempurna dengan kehadiran Ervant, pria yang sudah mencuri hatinya hanya selama pertemuannya 3 hari itu. Delia berharap tidak ada laki-laki lain yang akan mengisi harinya lagi. Dia berharap inilah laki-laki terakhir dalam hidupnya.
Delia merasa sangat bahagia. Meskipun tidak pernah dan tidak tahu kapan dia akan bertemu dengan Ervant lagi. Baginya, long distance Relationship (LDR) bukanlah hal yang buruk untuk dijalani. Menunggu bukanlah hal yang membosankan baginya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dibulan kedua mereka pacaran, Delia dan Ervant mengatur waktu untuk bertemu lagi. Pertemuan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai. Hari demi hari dilalui Delia dan Ervant hanya berkomunikasi melalui HP. Dan kini tiba saatnya mereka bertemu.
Dalam pertemuan itu, Delia sangat bahagia. Dia bisa melihat wajah Ervant, berbicara sambil menatap wajah yang selalu di rindukannya. Delia bisa meluapkan segala kerinduan dalam hatinya, bisa bersandar dibahunya. Hari itu juga tidak akan dilupakan Delia (24/02/2008). Hari bersejarah itu akan selalu di ingat sampai kapanpun. Sungguh tidak ada sesuatu apapun yang mampu membeli kebahagiaan yang dirasakan oleh Delia. Hari itu, Ervant tidak ingin menjadi hari terakhir mereka bertemu.
Bulan demi bulan mereka lalui hanya melalui SMS ataupun hanya sekedar say hello di telpon. Setahun mereka tidak bertemu, Delia tetap menunggu kehadiran Ervant lagi. Jalannya percintaan memang tak pernah mulus, begitu pula yang dialami oleh Delia. Memasuki tahun kedua dia berpacaran dengan Ervant. Ervant mulai menunjukkan sikap anehnya. Entah itu sifat aslinya atau bukan. Walaupun begitu Delia tetap sabar menanti kedatangannya lagi meskipun itu mustahil.
Ervant sudah memperlihatkan sikap cueknya kepada Delia. Tidak pernah lagi menelpon ataupun SMS. Delia merasa bingung dengan perubahan sikapnya. Suatu hari, disaat yang tidak pernah Delia harapankan. Delia harus merasakan kekecewaan yang sangat dalam. Tiga hari menjelang ulang tahun Delia, Ervant mempenalkan padanya seorang cewek yang diakuinya sebagai pacar barunya. Delia merasa hatinya ditusuk bamboo runcing. Perih….
Tapi, karena cintanya besar kepada Ervant, Delia selalu memaafkannya. Dia mengerti bagaimana perasaan Ervant yang pastinya butuh seorang wanita yang bisa selalu ada saat dia membutuhkan. Delia mengerti akan hal itu. Makanya Delia tidak marah ataupun membenci Ervant. Buat Delia, Ervant tetap menjadi laki-laki yang sangat berarti dalam hidupnya. Carine Alifah, begitu nama wanita yang diperkenalkan Ervant kepada Delia. Carine adalah sosok wanita yang lembut, dan ramah dalam berteman.
Delia meminta kepada Carine agar dia selalu menjaga Ervant dan jangan sampai menyakitinya. Jika Ervant di sakiti oleh Carine, maka orang pertama yang gak akan rela adalah Delia. Entah apa yang membuat Delia begitu mencintai Ervant.
Saat itu, Delia sebenarnya juga sudah memiliki pacar. Tapi, cinta Delia kepada laki-laki itu tidak sebanding dengan sayangnya Delia kepada Ervant. Bahkan ketika Ervant menyakitinya, memberikan luka terdalam dihatinya, Delia masih tetap mencintainya. Cinta yang terlanjur dikatakan, dan kata setia yang terlanjur diucapkan.
Dihari ulang tahun Delia, Delia mencoba kembali menghubungi Ervant. Akhirnya, Ervant menjawab telepon Delia.
“Handphone mas lowbatt, dek. Mas sekarang lagi di bandara. Nanti aja ya nelponnya lagi.” Ervant menjelaskan pada Delia.
“Iya sudah, mas hati-hati ja deh.” Delia berkata dengan sedih.
Setelah menutup telponnya, Delia mencoba untuk mengirim SMS kepada Ervant. Isinya :
“Mas, ingat gak hari ini hari apa?” Delia mengirim pesan itu kepada Ervant.
“Mank Kenapa?” Ervant membalas singkat.
“Hari ini Delia Ultah.” Delia membalas lagi. “Delia sayang banget ma mas. Meskipun saat ini Delia sudah tidak ada lagi dalam hati mas. Izinkan Delia untuk tetap mencintai mas.”
“Ooo…iya kah? Met ultah ya, panjang umur dan tetap eksis.” Kemudian dilanjutkan, “Makasih atas cintanya adek buat mas. Tapi mas udah terlanjur sayang ma Carine.” Ervant berkata seolah tanpa beban.
“Inilah kado terpahit yang Delia dapatkan di hari ultah Delia. Delia harus kehilangan orang yang Delia sayangi. Makasih mas atas semuanya, semua waktu yang mas berikan pada Delia.” Delia menangis tersedu-sedu.
Tepat dimalam itu, Delia juga mengirim SMS kepada pacarnya dan mengatakan kalau Delia tidak bisa bersamanya lagi. Apapun keputusannya, Delia tetap ingin putus dengannya. Mungkin karena Delia terlalu kecewa, Delia harus menyakiti hati pria yang udah sayang padanya. Malam itu Delia seperti seseorang yang tidak punya perasaan. Dia tidak memikirkan perasaan orang lain. Sejak hari itu, Delia tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan pria manapun.
Suatu hari, ketika Delia membuka jejaringan sosial. Tanpa disengaja Delia melihat status hubungan Ervant berpacaran dengan seorang wanita. Delia memang tidak mengetahui bagaimana wajah Carine itu sebenarnya. Tanpa pikir panjang dan dengan hati yang dibakar api cemburu, Delia langsung meng-Add Facebook cewek itu dan mengirimkan pesan. Ternyata wanita itu bukanlah Carine melainkan pacar baru Ervant. Delia bingung dan langsung menghubungi Carine dan bertanya apakah Facebook itu miliknya, dengan perasaan kaget Delia menceritakan kalau ternyata Ervant memiliki pacar baru lagi dan juga telah menghianati Carine.
 Sejak hari itu, Delia dan Carine mulai menjalin persabatan dan mulai saling berbagi. Delia sudah menganggap Carine itu sebagai kakaknya sendiri dan juga tidak pernah membencinya begitu juga dengan Carine, dia juga sayang pada Delia dan sudah menganggap Delia sebagai adiknya sendiri. Karena kebetulan Delia lebih muda satu tahun dibandingkan Carine. Mereka begitu kompak. Namun sayangnya, Delia masih tidak bisa untuk membenci ataupun tidak berharap lagi pada Ervant. Cinta memang telah membutakan matanya.
Meskipun Delia dan Carine tidak pernah bertemu dan bertatap muka, tapi manis pahitnya sudah mereka jalani. Mereka selalu tertawa bareng. Mentertawakan kebodohan mereka karena sudah terperangkap dalam permainan Ervant. Bahkan mereka juga pernah nangis bareng. Sungguh persahabatan yang indah.
Memasuki tahun ketiga, Delia masih setia menunggu Ervant. Berbagai masukan dan saran dari teman-temannya tidak juga dapat merubah keputusan Delia. Delia ingin membuktikan kesetiaan dia buat Ervant.
Semua pengorbanan tidaklah sia-sia. Suatu malam, tanpa diduga Delia mendapat telpon dari Ervant. Ervant kembali mesra kepada Delia. Delia tidak mengerti kenapa Ervant tiba-tiba muncul dan mengajak Delia balikan. Kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tidak henti-hentinya Delia mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena telah mendengarkan doanya. Dengan hati yang sangat bahagia, Delia menerima kembali Ervant karena itu adalah impiannya.
Delia menceritakan kehidupannya kepada Ervant semenjak Ervant meninggalkannya. Ervant menyadari kalau Delia sangat mencintainya dan selalu setia padanya. Maka dari itu Ervant berani mengatakan janjinya pada Delia untuk segera melamar Delia ditahun depan. Mungkinkah??? Tidak.
Tiga hari mereka kembali menjadi sepasang kekasih, dan itu tepat di tahun ketiga sejak mereka jadian pertama kali. Entah apa arti angka tiga dalam kehidupan Delia. Tiga hari mereka kenal, di tahun ketiga saat Delia masih tetap setia pada Ervant, meskipun udah dikhianati, Delia kembali bahagia. Dan sekarang, setelah tiga hari mereka kembali merasakan jatuh cinta, Delia harus merasakan kekecewaan karena ternyata Ervant telah mempermainkan perasaannya karena ternyata Ervant masih berhubungan dengan pacarnya.
Entah dendam apa yang ada dalam hati Ervant sehingga dia tega meyakiti Delia untuk kedua kalinya. Didepan pacarnya, dia tidak mengakui kalau dia telah mengajak Delia balikan. Sungguh perbuatan yang sangat menyakitkan. Kekuatan hati dan perasaan sudah ada dalam diri Delia. Saat itu, dia merasa bahagia karena Allah masih sayang padanya dan telah menunjukkan siapa sebenarnya Ervant. Dia begitu tegar dan tidak menangis ketika kekecewaan itu datang lagi.
Sesuai dengan namanya, Fidelia Shofhah, yang artinya Setia dan Pemaaf. Delia masih mencoba untuk memberikan kesempatan ketiga bahkan mungkin keempat, kelima, keenam, dan seterusnya kepada Ervant. Karena Cinta yang terlanjur di katakan, serta kata setia yang terlanjur diucapkan. Delia ingin tetap setia kepada Ervant dan telah berkata dalam hati “Aku hanya akan memberikan kesempatan untukmu satu tahun kedepan”.

 Kekuatan cinta dapat mengalahkan apapun. 

Bersambung…..