“KESETIAAN SEORANG WANITA”
Kategori
: Cerita Bersambung
Karya
: Priincesse Vha Calista
Tanggal
: 24 Januari 2011
Di
sebuah desa yang asri, di sebuah rumah tua, ada seorang gadis remaja yang hidup
sederhana bersama kedua orang tua dan dua saudara kandungnya. Nama gadis itu
adalah Fidelia Shofhah, panggil saja Delia. Dia berumur 18 tahun dan masih
duduk dibangku kelas 3 SMA. Dia gadis yang kuat, ceria, ramah, suka senyum,
baik, setia dan penyayang.
Cerita
ini tidak hanya mengisahkan kehidupan dia saja tapi intinya menceritakan kisah
cintanya. Oke, lanjut!! J
Cerita
berawal pada suatu pagi. Hari itu Minggu tanggal 16 Desember 2007. Pagi itu, ketika
bangun tidur Delia di panggil ibunya untuk menemani membeli sayur di warung. Sayup-sayup
Delia mendengar ibunya bercerita kepada tantenya, bahwa di desa itu sedang ada pembangunan
semenisasi jalan.
“Delia…
temani ibu beli sayur untuk makan siang…” Ibu memanggil Delia.
Delia
menuruti kata ibunya. “Jalan tanjakan itu sedang di semenisasi. Ibu lihat sudah
di patok.”
Delia
diam sambil menjawab “Oo…”
Ketika
melewati jalan tersebut, tanpa disengaja Delia melihat seorang pria yang tampak
lebih bersih dan berkulit terang dibandingkan temannya yang lain. Awalnya ibu
mengira pria itu adalah mandornya. Saat melewati kumpulan para pekerja itu,
tanpa disangka si pria tersebut mencoba menyapa Delia. Sambil tersenyum dan
mengangguk, Delia menjawab “Iya...” seperti biasa, Delia hanya bisa tersenyum
manis. Dan hari itu dia memberikan senyum termanis dari bibir mungilnya sebagai
bentuk kekagumannya pada pria tampan itu. J
Cerita
tidak berhenti disitu. Detik berubah menit, menit berganti jam, entah perasaan
dari mana Delia mulai tertarik dengan pria tersebut.
Keesokan
harinya, saat Delia disuruh belanja ke toko, dia bertemu dengan pria itu lagi.
Pria itu bertanya pada Delia, “Siapa namanya, Dek..?” dengan tersipu malu Delia
tersenyum tanpa memberi tahu siapa namanya.
Pada
saat itu, sepupu Delia mengatakan namanya dengan suara keras. Dengan begitu
pria dan teman-temannya langsung mengetahui nama Delia. Sore harinya, ditempat yang
sama. Pria tadi memanggil Delia.
“Dek,
sini sebentar…” pria berlari menuju Delia.
“Nanti
malam ketemuan, yuk. Kalau gak hujan. Ntar adek jemput kesini.” Pria itu
mengajak Delia ketemuan malam itu.
“Iya
sudah, ntar datang ja kerumah. Gampang kog cari rumahnya.” Delia berkata sambil
menunjukkan arah jalan kerumahnya.
“Tapi
kan aku gak tau.”
“Iya
deh, ntar saya jemput.” Delia berkata sambil pamitan mau pulang karena hari
sudah sore.
Malam
itu hujan turun tidak begitu deras, tapi Delia tidak berani untuk keluar
menemui pria itu. Keesokan harinya, di jam yang sama Delia melewati jalan itu
lagi, dan berkata kepada pria tersebut.
“Kenapa
tadi malam gak jadi...?”
“Kan
hujan….” Pria itu menjawab santai.
Jam
menunjukkan pukul 12.00 wib, saat itu Delia berada ditempat dimana para pekerja
jalan itu melepaskan penat. Ketika itu, pekerjaan mereka sudah hampir selesai
hanya tinggal sekitar 2 meter jalan yang akan diperbaharui. Ternyata pria
tersebut ingin ngobrol lagi dengan Delia.
Dibawah
pohon yang rindang, pria mengajak Delia untuk duduk berdua diatas kursi yang
memang sudah ada di bawah pohon itu. Kini giliran Delia yang bertanya siapa
nama pria tersebut.
“Abang,
namanya siapa…? Abang belum bilang namanya.?”
“Kenapa
gak tanya kemarin…?” pria menjawab. Dia mengambil sebuah ranting dan menuliskan
namanya diatas papan tempat mereka duduk. Dengan terbata-bata Delia membaca
tulisan pria itu.
“ W-i-r-a-E-r-v-a-n-t-h-e”
“Wira
Ervanthe” pria itu membenarkan kata-kata Delia. (Dibaca : Wira Ervant)
“Namanya
bagus…” Delia tersenyum.
Delia
merasa nyaman berada didekat pria tersebut. Mereka berbicara banyak.
Seolah-olah mereka sudah saling kenal sebelumnya. Waktu yang singkat itu sudah
membuat Delia merasakan bahagia. Dia tidak mau kehilangan pria itu. Sayangnya,
Delia tidak bisa berlama-lama menemani pria itu ngobrol. Sebelum Delia beranjak
pergi, pria itu menahannya sambil berbisik.
“Tunggu
dulu. Nanti kalau kesini bawakan pulpen, ya”. Pria itu berkata.
“Untuk
apa?”
“Udah
ntar bawa ja.”
“Pake
kertas juga?”
“Gak..”
candanya. “Biasanya kalau mau nulis diatas kertas. Atau ntar nulisnya di dinding
ja..?”
“Iya
deh.” Delia berlalu meninggalkan pria itu.
Sesampai
dirumah Delia langsung mengambil kertas dan menyembunyikan kedalam saku
celananya. Hari itu, ibu Delia mengalami luka pada bagian kakinya akibat sabetan
parang. Delia berinisiatif membelikan hansaplast untuk membalut luka ibunya.
Delia tergesa-gesa karena sudah tidak sabaran untuk ketemu pria itu lagi dan
memberikan kertas dan pulpen padanya.
Di
toko itu, Delia memberikan kertas dan pulpennya kepada Ervant. Delia penasaran
apa yang akan dituliskan pria itu di kertas tersebut. Setelah selesai, pria itu
melipat kertasnya dan memberikan kepada Delia sambil berkata.
“Janji
ya, sampai rumah baru dibuka.”
“Ya.
Emangnya nulis apa sih..?” Delia penasaran.
“Ntar
tau juga.”
Delia
pulang dengan memegang erat kertas itu seolah-olah takut kertas itu terbang
atau sobek. Ditengah jalan, Delia makin penasaran dan membuka kertas tersebut, dengan
hati berdebar-debar dia membaca tulisan itu. Serasa terkena embun dipagi hari,
Delia memeluk kertas itu dan segera mempercepat langkahnya untuk pulang.
Dirumah, setelah membalut luka ibunya, Delia langsung masuk kamar dan melihat
tulisan itu. Ternyata Ervant menuliskan naman, tanggal lahir, dan nomor
handphonenya.
Delia
sangat senang. Dia membalas surat itu dengan hal yang sama, tapi dia tidak
memberikan nomor handphonenya karena saat itu Delia belum memiliki handphone.
Saat itu Delia sangat sedih karena dia tidak memiliki nomor handphone untuk Ervant.
Satu
hari, dua hari berlalu. Kini jalan itu sudah selesai di perbaharui. Susah
saatnya juga para pekerja itu kembali ketempatnya masing-masing. Termasuk pria
tampan itu. Delia merasa sedih karena dia takut tidak bisa bertemu Ervant.
Untuk terakhir kalinya Delia menemui Ervant, tidak peduli dengan keadaan
sekitar. Sesampai ditempat Ervant. Delia langsung dipanggil Ervant lalu
mengajak Delia duduk bersamanya.
“Mau
kemana?” Ervant bertanya.
“Ya,
mau kesini.” Jawab Delia.
Mereka
kembali ngobrol tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang waktu itu memang
sangat ramai dipenuhi oleh penduduk sekitar. Meskipun digodain oleh teman-teman
Ervant, namun mereka tetap tidak peduli.
“Ada
yang mau disampein?” Ervant bertanya pada Delia.
“Hmm…
Apa ya…?” Delia kehabisan kata-kata.
“Oia…Boleh
minta gak?” Ervant kembali bertanya.
“Minta
apa….?” Delia balik bertanya.
“Jangan
dipanggil abang dounk.”
“Lalu
dipanggil apa?” Delia pura-pura polos.
“Aku
kan udah lama di Jawa dan gedenya juga di Jawa”
“Oo….mau
dipanggil mas..?” Delia langsung tanggap.
“Nah…itu
udah tau. Mas mahal, loh.” Kembali Ervant bercanda. Ervant lalu mengeluarkan
KTP nya dan memperlihatkan kepada Delia.
“Tuh,
udah nikah, kan?” Ervant memang suka bercanda. Dalam KTP itu, Delia melihat
identitas Ervant yang tertulis jelas belum menikah sambil tersenyum. Iya, itu
memang sifat Delia yang gampang tersenyum.
“Ayo,
ada yang mau dikatakan gak? Atau kasih pertanyaan aja”. lanjut Ervant.
“Mmmm….Masih
mau kesini lagi, gak?” Delia bertanya.
“Mau…”
Jawab Ervant cepat.
“Trus
kalau kesini rencananya mau ngapain?” Delia bertanya lagi.
“Tergantung
tujuan”. Ervant lalu melanjutkan, “Kenapa, sepertinya pengen kali mas balik
kesini lagi.?” Giliran Ervant yang bertanya.
“Emangnya
terlalu berharap, ya?” Delia salah tingkah.
“Gak
juga sih. Boleh jujur gak?”
“Boleh…”
“Mas
sayang adek.” Ervant mengungkapkan perasaannya yang membuat Delia terharu dan kembali
salah tingkah. Ervant lalu beranjak dari tempat duduknya mengambil ransel
pakaiannya. Sementara Delia masih terdiam dan terpaku ditempat duduknya. Delia
merasa bahagia sekaligus bersedih. Bahagia karena telah menemukan cintanya dan
bersedih karena harus berpisah dengan cinta yang baru didapatnya.
Ervant
menjabat tangan Delia sebelum dia meninggalkan tempat itu. Setelah berpamitan,
Delia berlari pulang kerumah sambil menangis yang bukan disebabkan kekecewaan,
tapi menangis karena dia harus berpisah dengan pria yang sudah membuatnya jatuh
cinta.
Keesokan
harinya, Delia berusaha untuk menghubungi Ervant dengan meminjam HP temannya.
Alhamdulillah, mereka bisa ngobrol lagi meskipun hanya sebentar. Dalam
pembicaraan itu, Ervant mengulangi kata-katanya saat dia mengungkapkan
perasaannya. Dalam obrolan itu,
“Adek
kenapa, kog nangis kemaren? Tersinggung ma kata-kata mas?” Ervant memulai
pembicaraan.
“Gak
kenapa-napa kog. Cuma terharu ja.” Jawab Delia.
“Nah,
trus gimana jawabannya?” Ervant kembali bertanya.
“Hmm…maunya
gimana?” Delia balik betanya.
“Iya,
itu terserah adek, mau jawab apa, mas juga gak maksa.”
“Bisa
gak diulang kata-katanya?” Delia meminta Ervant mengulangi kata-katanya.
“Mas
sayang adek”
“Apa..???
Gak jelas.” Delia berpura-pura tidak mendengar.
“Mas
sayang adek….” Ervant mengulangi kata-katanya lagi.
“Iya,
Delia juga sayang mas.” Delia menjawab dengan pasti.
“Mas
mau bukti kalau adek memang sayang mas.”
“Bukti
gimana?” Delia bingung.
“Adek
harus melanjutkan sekolah, kalu bisa adek kuliah.” Ervant sangat peduli dengan
pendidikan Delia. Maka dari itu Delia merasa ada yang beda dalam diri Ervant
yang sangat peduli dengan masa depannya. Delia tidak mengambil negative dari
perkataan Ervant. Yang dia tahu, Ervant benaran sayang padanya.
Malam
itu menjadi malam yang sangat bersejarah buat Delia. Dia merasa kembali
bersemangat. Memang sebelum dia bertemu Ervant, kehidupannya memang bahagia,
apalagi setelah Ervant masuk kedalam hidupanya. Delia merasa hidupnya sangat
sempurna dengan kehadiran Ervant, pria yang sudah mencuri hatinya hanya selama
pertemuannya 3 hari itu. Delia berharap tidak ada laki-laki lain yang akan
mengisi harinya lagi. Dia berharap inilah laki-laki terakhir dalam hidupnya.
Delia
merasa sangat bahagia. Meskipun tidak pernah dan tidak tahu kapan dia akan
bertemu dengan Ervant lagi. Baginya, long
distance Relationship (LDR) bukanlah hal yang buruk untuk dijalani.
Menunggu bukanlah hal yang membosankan baginya.
Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan. Dibulan kedua mereka pacaran, Delia dan
Ervant mengatur waktu untuk bertemu lagi. Pertemuan sebagai sepasang kekasih
yang saling mencintai. Hari demi hari dilalui Delia dan Ervant hanya
berkomunikasi melalui HP. Dan kini tiba saatnya mereka bertemu.
Dalam
pertemuan itu, Delia sangat bahagia. Dia bisa melihat wajah Ervant, berbicara
sambil menatap wajah yang selalu di rindukannya. Delia bisa meluapkan segala
kerinduan dalam hatinya, bisa bersandar dibahunya. Hari itu juga tidak akan
dilupakan Delia (24/02/2008). Hari bersejarah itu akan selalu di ingat sampai
kapanpun. Sungguh tidak ada sesuatu apapun yang mampu membeli kebahagiaan yang
dirasakan oleh Delia. Hari itu, Ervant tidak ingin menjadi hari terakhir mereka
bertemu.
Bulan
demi bulan mereka lalui hanya melalui SMS ataupun hanya sekedar say hello di telpon. Setahun mereka
tidak bertemu, Delia tetap menunggu kehadiran Ervant lagi. Jalannya percintaan
memang tak pernah mulus, begitu pula yang dialami oleh Delia. Memasuki tahun
kedua dia berpacaran dengan Ervant. Ervant mulai menunjukkan sikap anehnya.
Entah itu sifat aslinya atau bukan. Walaupun begitu Delia tetap sabar menanti
kedatangannya lagi meskipun itu mustahil.
Ervant
sudah memperlihatkan sikap cueknya kepada Delia. Tidak pernah lagi menelpon
ataupun SMS. Delia merasa bingung dengan perubahan sikapnya. Suatu hari, disaat
yang tidak pernah Delia harapankan. Delia harus merasakan kekecewaan yang
sangat dalam. Tiga hari menjelang ulang tahun Delia, Ervant mempenalkan padanya
seorang cewek yang diakuinya sebagai pacar barunya. Delia merasa hatinya
ditusuk bamboo runcing. Perih….
Tapi,
karena cintanya besar kepada Ervant, Delia selalu memaafkannya. Dia mengerti
bagaimana perasaan Ervant yang pastinya butuh seorang wanita yang bisa selalu
ada saat dia membutuhkan. Delia mengerti akan hal itu. Makanya Delia tidak
marah ataupun membenci Ervant. Buat Delia, Ervant tetap menjadi laki-laki yang
sangat berarti dalam hidupnya. Carine Alifah, begitu nama wanita yang
diperkenalkan Ervant kepada Delia. Carine adalah sosok wanita yang lembut, dan
ramah dalam berteman.
Delia
meminta kepada Carine agar dia selalu menjaga Ervant dan jangan sampai
menyakitinya. Jika Ervant di sakiti oleh Carine, maka orang pertama yang gak akan
rela adalah Delia. Entah apa yang membuat Delia begitu mencintai Ervant.
Saat
itu, Delia sebenarnya juga sudah memiliki pacar. Tapi, cinta Delia kepada
laki-laki itu tidak sebanding dengan sayangnya Delia kepada Ervant. Bahkan
ketika Ervant menyakitinya, memberikan luka terdalam dihatinya, Delia masih
tetap mencintainya. Cinta yang terlanjur dikatakan, dan kata setia yang
terlanjur diucapkan.
Dihari ulang
tahun Delia, Delia mencoba kembali menghubungi Ervant. Akhirnya, Ervant
menjawab telepon Delia.
“Handphone
mas lowbatt, dek. Mas sekarang lagi di bandara. Nanti aja ya nelponnya lagi.”
Ervant menjelaskan pada Delia.
“Iya
sudah, mas hati-hati ja deh.” Delia berkata dengan sedih.
Setelah
menutup telponnya, Delia mencoba untuk mengirim SMS kepada Ervant. Isinya :
“Mas,
ingat gak hari ini hari apa?” Delia mengirim pesan itu kepada Ervant.
“Mank
Kenapa?” Ervant membalas singkat.
“Hari
ini Delia Ultah.” Delia membalas lagi. “Delia sayang banget ma mas. Meskipun
saat ini Delia sudah tidak ada lagi dalam hati mas. Izinkan Delia untuk tetap
mencintai mas.”
“Ooo…iya
kah? Met ultah ya, panjang umur dan tetap eksis.” Kemudian dilanjutkan,
“Makasih atas cintanya adek buat mas. Tapi mas udah terlanjur sayang ma
Carine.” Ervant berkata seolah tanpa beban.
“Inilah
kado terpahit yang Delia dapatkan di hari ultah Delia. Delia harus kehilangan
orang yang Delia sayangi. Makasih mas atas semuanya, semua waktu yang mas berikan
pada Delia.” Delia menangis tersedu-sedu.
Tepat
dimalam itu, Delia juga mengirim SMS kepada pacarnya dan mengatakan kalau Delia
tidak bisa bersamanya lagi. Apapun keputusannya, Delia tetap ingin putus
dengannya. Mungkin karena Delia terlalu kecewa, Delia harus menyakiti hati pria
yang udah sayang padanya. Malam itu Delia seperti seseorang yang tidak punya
perasaan. Dia tidak memikirkan perasaan orang lain. Sejak hari itu, Delia tidak
pernah lagi menjalin hubungan dengan pria manapun.
Suatu
hari, ketika Delia membuka jejaringan sosial. Tanpa disengaja Delia melihat
status hubungan Ervant berpacaran dengan seorang wanita. Delia memang tidak
mengetahui bagaimana wajah Carine itu sebenarnya. Tanpa pikir panjang dan
dengan hati yang dibakar api cemburu, Delia langsung meng-Add Facebook cewek itu dan
mengirimkan pesan. Ternyata wanita itu bukanlah Carine melainkan pacar baru
Ervant. Delia bingung dan langsung menghubungi Carine dan bertanya apakah Facebook
itu miliknya, dengan perasaan kaget Delia menceritakan kalau ternyata Ervant
memiliki pacar baru lagi dan juga telah menghianati Carine.
Sejak
hari itu, Delia dan Carine mulai menjalin persabatan dan mulai saling berbagi.
Delia sudah menganggap Carine itu sebagai kakaknya sendiri dan juga tidak
pernah membencinya begitu juga dengan Carine, dia juga sayang pada Delia dan
sudah menganggap Delia sebagai adiknya sendiri. Karena kebetulan Delia lebih
muda satu tahun dibandingkan Carine. Mereka begitu kompak. Namun sayangnya,
Delia masih tidak bisa untuk membenci ataupun tidak berharap lagi pada Ervant.
Cinta memang telah membutakan matanya.
Meskipun
Delia dan Carine tidak pernah bertemu dan bertatap muka, tapi manis pahitnya
sudah mereka jalani. Mereka selalu tertawa bareng. Mentertawakan kebodohan
mereka karena sudah terperangkap dalam permainan Ervant. Bahkan mereka juga
pernah nangis bareng. Sungguh persahabatan yang indah.
Memasuki
tahun ketiga, Delia masih setia menunggu Ervant. Berbagai masukan dan saran
dari teman-temannya tidak juga dapat merubah keputusan Delia. Delia ingin
membuktikan kesetiaan dia buat Ervant.
Semua
pengorbanan tidaklah sia-sia. Suatu malam, tanpa diduga Delia mendapat telpon
dari Ervant. Ervant kembali mesra kepada Delia. Delia tidak mengerti kenapa
Ervant tiba-tiba muncul dan mengajak Delia balikan. Kebahagiaan yang tak bisa
diungkapkan dengan kata-kata. Tidak henti-hentinya Delia mengucapkan rasa
syukur kepada Allah SWT karena telah mendengarkan doanya. Dengan hati yang
sangat bahagia, Delia menerima kembali Ervant karena itu adalah impiannya.
Delia
menceritakan kehidupannya kepada Ervant semenjak Ervant meninggalkannya. Ervant
menyadari kalau Delia sangat mencintainya dan selalu setia padanya. Maka dari
itu Ervant berani mengatakan janjinya pada Delia untuk segera melamar Delia
ditahun depan. Mungkinkah??? Tidak.
Tiga
hari mereka kembali menjadi sepasang kekasih, dan itu tepat di tahun ketiga
sejak mereka jadian pertama kali. Entah apa arti angka tiga dalam kehidupan
Delia. Tiga hari mereka kenal, di tahun ketiga saat Delia masih tetap setia
pada Ervant, meskipun udah dikhianati, Delia kembali bahagia. Dan sekarang, setelah
tiga hari mereka kembali merasakan jatuh cinta, Delia harus merasakan
kekecewaan karena ternyata Ervant telah mempermainkan perasaannya karena
ternyata Ervant masih berhubungan dengan pacarnya.
Entah
dendam apa yang ada dalam hati Ervant sehingga dia tega meyakiti Delia untuk
kedua kalinya. Didepan pacarnya, dia tidak mengakui kalau dia telah mengajak
Delia balikan. Sungguh perbuatan yang sangat menyakitkan. Kekuatan hati dan
perasaan sudah ada dalam diri Delia. Saat itu, dia merasa bahagia karena Allah
masih sayang padanya dan telah menunjukkan siapa sebenarnya Ervant. Dia begitu
tegar dan tidak menangis ketika kekecewaan itu datang lagi.
Sesuai
dengan namanya, Fidelia Shofhah, yang artinya Setia dan Pemaaf. Delia masih
mencoba untuk memberikan kesempatan ketiga bahkan mungkin keempat, kelima,
keenam, dan seterusnya kepada Ervant. Karena Cinta yang terlanjur di katakan,
serta kata setia yang terlanjur diucapkan. Delia ingin tetap setia kepada
Ervant dan telah berkata dalam hati “Aku hanya akan memberikan kesempatan
untukmu satu tahun kedepan”.
Kekuatan cinta dapat mengalahkan
apapun.
Bersambung…..