Sebelum kita membahas tentang pola makan
Nabi Muhammad, marilah kita pelajari Firman Allah dan Hadist Nabi yang
berkaitan dengan makan dan minum.
Perhatikan firman Allah berikut ini:
1)
“Makanlah makanan yang
halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah
kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (An Nahl:114)
2) “Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan
bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Ali ‘Imran 147)
3)
“Makan dan minumlah,
tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf ayat 31)
Dari ketiga ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria makan
dan minum yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim adalah halal, baik dan
tidak melampaui batas.
Adapun hadist
Rasulullah yang berkaitan dengan makan dan minum antara lain sebagai berikut:
- “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari
perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang
rusuknya. Kalau toh dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga
untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (H.R. Turmudzi, Ibnu Majah,
dan Muslim).
- ”Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup
untuk empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan
orang.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darimi).
- “Sesungguhnya termasuk sikap berlebih-lebihan bila kamu memakan
segala sesuatu yang kamu inginkan.” (H.R. Ibnu Majah)
- “Seorang mukmin makan dengan satu usus, sementara orang kafir
makan dengan tujuh usus.” (H.R. Muslim, Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah).
- “Kami adalah orang-orang yang tidak makan, kecuali setelah lapar,
dan bila makan, kami tidak sampai kenyang.” (H.R. Abu Dawud)
- ”Tidak ada suatu wadah yang diisi penuh oleh anak Adam yang lebih
jelek melebihi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suapan kecil untuk
menegakkan tulang belakangnya. Jika tidak mungkin, sepertiga untuk makanannya,
sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya,” (HR Imam Ahmad,
At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim).
Berikut ini adalah adab makan dan minum yang
dicontohkan oleh Nabi:
- Membaca basmalah ketika
hendak makan, dan mengakhiri dengan membaca hamdalah. Barangkali hikmah membaca basmalah dan hamdalah adalah seorang
muslim selalu mengingat bahwa makanan yang disantap tidak lain adalah nikmat
dan anugerah dari Allah yang Maha Lembut dan Maha Tahu. Dia akan terhindar dari
sikap berlebih-lebihan dan mubadzir. Seorang Muslim juga akan selalu sadar
bahwa makanan bukan tujuan akhir, tapi sarana menambah kekuatan untuk menuju
ketaatan kepada Allah, memakmurkan bumi dan menaburinya dengan kebaikan.
- Mencuci tangan sebelum
dan sesudah makan. Nabi bersabda: ”Barangsiapa tertidur sedang di kedua
tangannya terdapat bekas gajih, lalu ketika bangun pagi dia menderita suatu
penyakit, maka hendaklah dia tidak mencela melainkan dirinya sendiri”. Nabi sendiri jika hendak makan selalu mencuci tangan terlebih
dahulu, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Nasa’i dari
Aisyah ra.
- Menjauhi sikap berlebihan dan rakus. Makan adalah kewajiban. Dengan makan seorang
muslim memperoleh kekuatan untuk beribadah. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibn Umar: “Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak
yang harus kamu penuhi”. Namun demikian kita harus ingat batasan dalam mengkonsumsi
makanan, yaitu menjauhi sikap berlebihan dan rakus. Banyak sekali dalil yang menekankan hal ini. Allah dalam surat
al-A’raf ayat 31 berfirman: ”Makan dan minumlah, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” Dan juga di surat Thaha ayat 81: ”Makanlah diantara rezeki yang baik yang telah Kami berikan pada
kalian, dan janganlah melampaui batas padanya”. Sementara Rasulullah saw sendiri telah memerintahkan untuk
mengatur waktu makan dan berpegang teguh pada etika, sebagaimana sabda Beliau: ”Kami adalah orang-orang yang tidak makan kecuali setelah lapar,
dan bila makan kami tidak sampai kenyang”. Beliau juga bersabda: ”Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari
perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang
rusuknya. Kalau dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga
untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah,
dan Muslim). Maksudnya sebenarnya makanan dalam porsi minimal pun sudah cukup
baginya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Di dalam hadits yang diriwayatkan
oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Darimi, Rasulullah saw juga
bersabda: ”Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup
untuk empat orang, dan makanan empat orang sebenarnya cukup untuk delapan
orang”. Dalam hadits lain disebutkan: ”Sesungguhnya termasuk sikap berlebih-lebihan bila kamu memakan
segala sesuatu yang kamu inginkan”. (HR Ibnu Majah) Beliau pun bersabda: ”Seorang mukmin makan dengan satu usus, sementara orang kafir
makan dengan tujuh usus”. (HR. Muslim, Turmudzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
- Makan dengan tiga jari. Dengan tiga jari berarti kita telah bersikap seimbang. Sebagaimana
dikatakan bahwa makan dengan lima jari menunjukkan kerakusan, sedangkan makan
dengan satu atau dua jari menunjukkan kesombongan dan keangkuhan.
- Duduk tegak lurus saat
makan dan tidak bersandar. Rasulullah melarang seseorang makan sambil bersandar karena
membahayakan kesehatan dan mengganggu pencernaan lambung.
- Minum dengan tiga kali
tegukan. Dilakukan sambil duduk dan tidak bernafas dalam gelas. Nabi mengajarkan minum dengan menyesap (minum air dengan
menempelkan bibir ke air), bernafas di luar gelas serta tidak minum dengan cara
menenggak. Maksudnya adalah mencegah masuknya udara ke dalam lambung. Ubay bin Ka’ab berkata: ”Nabi saw tidak pernah meniup makanan dan minuman, tidak bernafas
di dalam wadah. Bahkan beliau melarang meniup makanan dan minuman.” Nabi saw biasa minum dengan tiga kali teguk, sambil bernafas di
antara tiga kali tegukan di luar gelas dan bukan di dalamnya. Diriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bernafas tiga kali
saat minum. Beliau bersabda: ”Sungguh, ini lebih mengenyangkan, menyembuhkan, dan menyegarkan”.
(HR Bukhari dan Muslim). Anas juga berkata: ”Rasulullah saw telah melarang minum sambil berdiri”. (HR Muslim). Ibnu Abbas menambahkan: ”Rasulullah saw telah melarang minum dari mulut poci”. (HR Bukhori
dan Ibnu Majah).
- Mendahulukan makan
buah-buahan sebelum makan daging (makanan utama). Hal ini sebagai upaya untuk mengikuti apa yang dilakukan para
penghuni surga. Dalilnya adalah Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 20-21: ”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung
dari apa yang mereka inginkan”.
- Menutup makanan dan
minuman di atas meja. Nabi mewajibkan menutup makanan untuk melindunginya dari
pencemaran, sebagaimana dinyatakan dalam hadits Nabi saw.: ”Tutuplah bejana”. (HR. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah). Dalam riwayat Bukhari disebutkan: ”Tutuplah makanan dan minuman”. Rasulullah saw bersabda: ”Tutuplah wadah tempat makanan dan minuman, karena dalam satu
tahun ada satu malam yang di malam itu turun wabah dari langit. Wabah itu tidak
menjumpai wadah yang terbuka melainkan akan ada sebagian dari wabah itu yang
mengenai wadah itu”.
- Mencuci mulut (berkumur)
sebelum dan setelah makan. Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan gigi dari sisa makanan dan
bakteri. Secara khusus beliau menekankan pentingnya berkumur setelah minum
susu: ”Berkumurlah kalian setelah minum susu, karena di dalamnya
mengandung lemak”. (HR. Ibnu Majah)
- Suplemen makanan
terbaik adalah madu. Rumah Nabi tidak pernah kehabisan madu. Nabi juga menganjurkan
untuk meminum madu secara teratur. Nabi bersabda: ”Hendaklah kalian meminum madu”. Adapun Nabi mengajarkan bahwa cara terbaik meminum madu adalah
dengan melarutkan satu sendok madu dengan air yang tidak dingin dan diaduk
dengan baik.
- Tidak memasukkan
makanan pada makanan. Ada dua pendapat mengenai maksud dari memasukkan makanan pada
makanan. Pendapat pertama adalah kita dilarang makan kecuali setelah dua jam
dari waktu makan berat. Pendapat kedua adalah kita dilarang menyuap makanan ke
dalam mulut pada saat masih ada makanan di dalamnya. Dunia kedokteran modern
membuktikan bahwa kedua hal tersebut memang berdampak negatif pada kesehatan.
- Menjilati jari dan
tempat makan. Menjilati tempat bekas makan akan sangat membantu pencernaan.
Rasulullah saw sendiri menjilati jemari beliau setelah makan. Beliau bersabda: ”Apabila salah seorang di antara kalian selesai makan, hendaklah dia
tidak membersihkan tangannya sehingga menjilatinya”. (HR. Bukhori, Muslim,
Ahmad, Tabrani). Hal itu menunjukkan adanya perintah untuk tidak meninggalkan sisa
makanan di tempat makan. Juga diriwayatkan Turmudzi dengan lafaz: ”Barangsiapa makan di piring, lalu ia menjilatinya, maka piring
itu akan memohonkan ampun untuknya”. (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad)
- Nabi melarang
menggabungkan antara susu dan ikan, cuka dan susu, cuka dan ikan, buah dan
susu, cuka dan nasi, delima dengan tepung, kubis (kol) dengan ikan, bawang
putih dengan bawang merah, makanan lama dengan makanan baru, makanan asam
dengan makanan pedas, makanan panas dengan makanan dingin.
- Tidak tidur setelah
makan. Nabi menganjurkan seseorang berjalan-jalan setelah makan malam.
Tapi bisa juga digantikan oleh shalat. Hal ini dimaksudkan agar makanan yang
dikonsumsi masuk lambung dengan tepat sehingga bisa dicerna dengan baik.
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi saw bersabda: ”Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah yang
Mahatinggi dan shalat, serta janganlah kalian tidur setelah makan, karena dapat
membuat hati kalian menjadi keras”. (HR. Abu Naim dengan sanad dha’if). Diriwayatkan dari Anas dengan status marfu’: ”Makan malamlah sekalipun hanya dengan kurma kering (yang rusak),
karena meninggalkan makan malam dapat mempercepat penuaan”.
- Makan bersama-sama dan
tidak sendiri-sendiri. Hal ini menyebarkan sekaligus menciptakan nuansa penuh kasih
sayang dan rasa saling mencintai yang tentunya akan memberi nilai positif bagi
selera makan.
- Makan sambil berbincang
dan tidak diam. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan suasana rileks dan
menyenangkan saat makan.
- Menghormati budaya dan
tradisi makan yang ada di tempat kita makan. Dilarang menghina atau membenci
makanan, sekalipun makanan itu di luar kebiasaan kita.
- Bersikap lembut
terhadap orang sakit dengan tidak memaksakan makanan tertentu.
- Menjaga perasaan orang
lain dengan tidak membelakangi posisi mereka. Hal ini bisa menyebabkan
terganggunya selera makan orang tersebut.
- Tidak mengkonsumsi
makanan yang terlalu panas dan minuman yang terlalu dingin.
Dalam buku “Muhammad Seorang Milyuner” karya
Dr. Ali Syu’aibi (2004), pada bagian ketiga kita bisa menemukan setidaknya tiga
anjuran Rasulullah berkaitan dengan pola makan:
1.
Tidak memakan daging
setiap hari, melainkan berselang hari.
Diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Aisyah ra, dia mengatakan
bahwa bagian lengan atas adalah daging yang paling disukai Nabi. Namun beliau
tidak memakan daging setiap hari. Maka yang tersisa ditangguhkan untuk keesokan
harinya.
2. Tidak memakan buah pada saat baru sembuh dari sakit.
Diriwayatkan dari Ummu Al-Mundzir binti
Qais, seorang wanita Anshar, dia mengatakan: ”Rasul datang kepadaku bersama Ali
yang waktu itu baru sembuh dari sakit. Kebetulan waktu itu kami punya buah yang
masih tergantung di pohonnya. Rasul pun berdiri dan dan memetik buah dan
memakannya. Ali juga ikut memetik, namun ketika akan memakannya, Rasul mencegah
seraya berkata: “Jangan Ali, kamu baru sembuh dari sakit”. Ali pun mengurungkan
niatnya. Maka aku membuat roti dan makanan yang direbus dan membawakannya pada
mereka. Maka Rasul pun berkata pada Ali: “Makanlah ini. Ini lebih baik
untukmu””. (HR. Abu Dawud)
3. Tidak pernah menolak undangan makan, bahkan jika yang dihidangkan
nilainya sangat murah.
Rasul tidak pernah menolak undangan makan
apapun selama makanan yang dihidangkan itu halal, meskipun makanan itu sangat
murah. Beliau berkata: “Jika kalian diundang untuk menghadiri jamuan makan,
maka hadirilah. Kalau suka makanlah, kalau tidak, tinggalkan”. (HR. Abu Dawud)
Sebagaimana Rasul juga pernah mengatakan: “Kalau aku diundang
untuk menghadiri suatu jamuan, meskipun yang dihidangkan hanya kaki atau
tangan, aku akan datang. Begitu juga kalau aku diberi hadiah tangan atau kaki,
aku pasti menerimanya”. (HR. Bukhori)
Ada beberapa ajaran Nabi mengenai hidup sehat.
- Nabi mengajarkan agar berpuasa untuk mengistirahatkan kerja alat
pencernaan. Nabi bersabda, ’’shuumu tashihu’’ (berpuasalah maka kamu akan
sehat).
- Nabi mengajarkan agar mengunyah makanan minimal 33 kali sebelum
ditelan. Sebagaimana sabdanya, ’’Saya mengunyah setiap suap makanan 30-50 kali,
sehingga menjadi lembek dan melalui kerongkongan tanpa kesulitan. Bahkan, pada
makanan yang sulit dicerna dengan baik, saya kunyah sampai 70-75 kali.’’ Jika
tidak dikunyah dengan baik, sebagian makanan itu akan terbuang tanpa terserap
dan terjadilah pembusukan yang menghasilkan banyak racun di usus. Itulah yang
menghabiskan sejumlah besar enzim. Air liur yang otomatis keluar saat mengunyah
dapat bercampur baik dengan asam lambung maupun air empedu. Maka proses pencernakan
pun bisa lebih lancar.
- Nabi tidak mencela
makanan. Sebagaimana terdapat dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, ’’Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan,
maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.’’ Tidak
mencela makanan berarti seseorang suka dan mensyukuri makanan itu. Suasana
hatinya senang ketika mengonsumsinya.
- Saat makanan disajikan
dalam keadaan panas, janganlah tergesa-gesa untuk menikmatinya. Biarkanlah
makanan tersebut menjadi dingin terlebih dahulu. Dari sisi kesehatan, makanan
yang panas tidak baik untuk kesehatan tubuh. Dan sebagai Muslim, anjuran
menyantap makanan yang sudah dingin diberikan oleh Rasulullah SAW, dan kita
wajib untuk menaatinya. Hal ini tersirat dalam hadis berikut: Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, jika beliau membuat
roti Tsarid maka beliau tutupi roti tersebut dengan sesuatu sampai panasnya
hilang. Kemudian beliau berkata, ’’Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ’’Sesungguhnya hal tersebut lebih besar berkahnya.’’
- Tidak berlebih-lebihan.
Nabi Muhammad SAW bersabda,’’Hendaklah keturuan Adam tidak memenuhi perutnya.
Cukuplah bagi keturunan Adam beberapa makanan yang dapat menegakkan tulang
sulbinya. Jika tidak ada halangan, sepertiga (perut) untuk makanannya,
sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk napasnya (HR Turmudzi). Makan secara berlebihan mengundang bahaya, seperti gangguan
pencernaan, diare, sembelit, perut kembung, obesitas, encok, penyakit lever,
pengerasan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan
penggumpalan dan pembekuan darah. Makan berlebihan juga bisa menimbulkan peradangan akut pada
pankreas dan empedu, diabetes melitus, bahkan batu ginjal. Benarlah apa yang
dikatakan dokter Arab, al-Harits ibn Kaldah, ’’Lambung adalah sarang penyakit,
dan diet (pola makan teratur) adalah obat utama.’’ Namun, kurang makan juga berbahaya. Di antaranya berdampak pada
terhambatnya pertumbuhan badan, akal, kurang darah, lemahnya sistem kekebalan
tubuh, dan anemia.
- Diharamkannya miras
serta daging babi, semua daging najis, bangkai, darah, semua jenis binatang
bertaring, dan semua jenis burung bercakar.
- Larangan memakan daging
sapi, kambing, dan sebagainya yang tergolong jallaalah (binatang yang kerap
memakan benda najis). Ibn Umar menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang
jallaalah dan susunya (HR Turmudzi).
- Menganjurkan banyak
mengonsumsi buah-buahan. Nabi Muhammad bersbda,’’Rumah tanpa kurma bagai rumah
tanpa makanan.’’ Diriwayatkan pula bahwa Nabi menyantap mentimun dengan kurma
matang. (HR Abu Dawud).
Seperti ditulis yang dinukil dari buku Makanan Untuk Membina Kejernihan
Pikiran sebagai Filsafat Vegetaris, setidaknya ada 10 kebiasaan
makan yang dinilai sangat menyehatkan:
1. Jangan terlalu
kenyang
Perut yang terlalu kenyang akan menekan
seluruh sistem pencernaan makanan dan menghambat proses pencernaan itu. Makanan
yang setengah dicerna akan membentuk sampah dan membusuk di dalam tubuh, dan
puncaknya adalah melemahkan seluruh sistem.
2. Makan dalam suasana
damai dan gembira
Apabila makan tergesa-gesa atau makan dalam
keadaan letih, terganggu, atau dalam keadaan sedih, makanan tidak akan dicerna
secara sempurna dan semua zat gizi yang dikandung akan lenyap. Ketika pikiran
sedang kalut maka seluruh tubuh kitapun mengalami kekalutan.
3. Jangan terlalu
banyak jenis makanan
Kombinasi yang terlalu banyak pada sekali
makan sangat merepotkan sistem penyernaan kita, maka sebaiknya makan dengan
kombinasi tidak lebih dari empat jenis makanan.
4. Kunyah makanan itu
sampai halus merata
Khususnya makanan bertepung seperti nasi,
roti, mie, dll. Kunyah dengan sebaik-baiknya, jangan tergesa-gesa menelan
makanan itu, karena apabila makanan tersebut tidak dapat dicerna di dalam perut
akan menghasilkan racun yang akan melemahkan seluruh sistem pencernaan. Air
ludah bersifat alkali, apabila dicampur dengan makanan yang bersifat asam.
5. Duduk dengan sikap
yang baik ketika makan
Duduklah dengan punggung tegak saat makan
sehingga energi akan lancar mengalir.
6. Usahakan sempat
istirahat setelah makan
Setelah makan usahakan jangan langsung
mengerjakan pekerjaan fisik atau mental. Saat itu semua energi tubuh dan darah
diperlukan dalam proses pencernaan.
7. Hindari makan
makanan penyela
Makanan memerlukan waktu empat jam untuk
meninggalkan lambung. Setelah itu cairan pencernaan terhimpun kembali dan siap
untuk proses pencernaan berikutnya.
Apabila kita makan beberapa kali sehari, cairan pencernaan tidak
pernah mendapat kesempatan berkumpul sepenuhnya dan cairan yang tidak seberapa
kuat ini tidak mampu mencerna secara sempurna. Jadi makanlah ketika kita
benar-benar merasa lapar, maksudnya tidak makan ketika perut masih penuh dan
jangan lebih dari empat kali dalam sehari.
8. Jangan makan terlalu
malam, dekat dengan saat untuk tidur
Sebaiknya makanlah satu setengah jam
menjelang waktu tidur, karena tidur dengan perut kenyang akan menimbulkan
gas-gas yang menyebabkan mimpi. Berjalan-jalan di udara terbuka sebelum tidur
akan membantu pencernaan mencapai keadaan relaks.
9. Minum air secukupnya
setiap hari
Air merupakan pencuci alamiah yang dapat
membersihkan tubuh dari racun dan kotoran. Minumlah sekitar 3-4 liter dalam
sehari.
10. Jangan makan
makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin
Makanan terlalu panas mengganggu sistem
pencernaan, karena sistem pencernaan bekerja pada batas temperature tertentu.
Panas makanan tersebut dapat mengganggu lapisan lendir yang melapisi saluran
pencernaan. Makanan yang terlalu dingin akan membuat sistem pencernaan
mengkerut sehingga proses pencernaan menjadi semakin sulit. Makanan yang
terlalu dingin dapat membuat saluran-saluran pernafasan mengkerut dari hidung
hingga paru-paru, sehingga semua menjadi peka. Kadang-kadang minuman yang
diminum tiba-tiba dapat menimbulkan reaksi asma dan alergi.
**Sumber : google