Senin, 18 Juni 2012

Tanda Kiamat

1. Terbitnya matahari dari arah barat.

Dalam banyak hadits shahih disebutkan bahwa terbitnya matahari dari arah barat itu merupakan tanda pertama yang akan muncul. Abdullah Bin ‘Amr Bin Ash (semoga Allah meridhoinya) telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya tanda (kiamat) yang pertama keluar adalah terbitnya matahari dari barat dan keluarnya binatang kepada manusia di waktu pagi. (Tanda mana pun) yang datang lebih dulu (dari kedua tanda itu), maka yang belakangan itu datang tidak jauh dari yang pertama.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud)

2. Munculnya binatang (dabbah).

Allah Swt. mengisyaratkan munculnya binatang ini dalam firman-Nya:

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الأرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لا يُوقِنُونَ

“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” (Q. S. An-Naml [27]: 82)

Berdasarkan banyak hadits, binatang yang dimaksud bukanlah binatang biasa yang kita kenal. Namun demikian, baik Al-Quran maupun sunnah tidak menjelaskan bentuk dan jenis binatang tersebut.
Penyebutan sifat-sifatnya dalam beberapa kitab didasarkan pada riwayat-riwayat yang tidak sampai pada derajat shahih dan kita tidak dibebani untuk mengetahui sifat-sifat binatang itu. Cukuplah untuk kita berpegang pada nash Al-Quran dan hadits yang shahih yang menginformasikan bahwa keluarnya binatang itu merupakan salah satu tanda datangnya kiamat.

3. Munculnya Dajjal.

Di antara tanda-tanda datangnya kiamat adalah munculnya “seseorang” yang disebut Dajjal. Tentang Dajjal ini, ada sejumlah hadits shahih yang di antaranya disampaikan oleh ‘Abdullah Bin ‘Umar (semoga Allah meridhoinya) yang mengatakan:

“Rasulullah Saw. berdiri di hadapan orang-orang, lalu memuji Allah sebagaimana layaknya, kemudian ia menyebut-nyebut Dajjal seraya mengatakan, ‘Sesungguhnya aku ingin mengingatkan kalian tentang Dajjal, dan tidak ada seorang nabi pun melainkan pasti ia mengingatkan kaumnya tentang itu. Tapi aku akan mengatakan apa yang tidak dikatakan oleh nabi mana pun kepada kaumnya: bahwa Dajjal itu picak (bermata satu) dan bahwa Allah tidaklah picak.’” (H.R. Bukhari dan Muslim)

4. Turunnya Nabi Isa As.

Allah Swt. Berfirman:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.’” (Q.S. An-Nisa’a [4]:157)

Hadits-hadits shahih menunjukkan bahwa Nabi Isa a.s. akan turun di akhir zaman, menjelang kiamat, selagi ada Dajjal, lalu Beliau membunuhnya, memberlakukan hukum Islam, dan menghidupkan hukum-hukum Islam yang ditinggalkan manusia. Kemudian ia hidup di bumi dalam waktu yang Allah kehendaki, kemudian ia mati dan kaum muslim menyalatkan serta menguburkannya.

Dalam keterangan yang lain, Rasulullah Saw. juga pernah bersabda:

“Demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya, hampir tiba masanya di mana Isa bin Maryam turun dengan membawa hukum yang adil, lalu ia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan pajak, melimpah-ruahkankan harta hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya. Hingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dengan segala isinya.” (H.R. Muttafaq ‘alalih)

Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan,

“Turunnya Nabi Isa a.s. dan bahwa ia membunuh dajjal dalam pandangan Ahlus-Sunnah adalah kebenaran karena ditopang oleh dalil-dalil shahih. Dan akal maupun syari’at tidak punya alasan untuk menampiknya.” (Syarah Imam Nawawi ‘Ala Shahih Muslim juz 18 hal. 75-76.)

5. Munculnya Ya’juj dan Ma’juj.

Firman-Nya,

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Q.S. Al-Anbiya’a [21]: 96-97)

Rasulullah Saw. bersabda,

“Tiada Tuhan selain Allah, celakalah orang Arab oleh keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini telah dibuka benteng Ya’juj dan Ma’juj, seperti ini –sambil Beliau melingkarkan ibu jari dengan telunjuk.” Zainab berkata, “Ya Rasulullah, akankah kami dibinasakan padahal di tengah-tengah kami banyak orang saleh?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya, jika banyak kotoran-kotoran.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasulullah Saw. yang lain:

“Dan Allah akan membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Lalu barisan paling depan dari mereka lewat ke sebuah danau lalu meminum air yang ada di dalamnya. Dan bagian belakang mereka lewat kemudian mengatakan, ‘Dulunya di danau ini penuh dengan air.’” (H.R. Muslim)

Setelah itu semua, kita wajib mengimani segala yang terjadi di hari terakhir dari kehidupan dunia dan permulaan yaumul-akhir sebagaimana yang Allah informasikan dalam Al-Quran terutama dalam surah At-Takwir dan Al-Infithar.

Semua ayat-ayat itu menjelaskan bahwa hari akhir bermula dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh dalam alam semesta ini: langit terbelah, bintang-bintang berhamburan, planet-planet bertabrakan, bumi luluh-lantah dan kembali menjadi hamparan yang gersang, gunung-gunung menjadi bagaikan tumpukan pasir yang berhamburan, segala sesuatu menjadi rusak, serta segala yang diketahui manusia di dunia ini menjadi hancur. Allah Swt. berfirman:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Q.S. Ibrahim [14]: 48)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia mengatakan, ‘Akulah Raja. Mana raja-raja bumi?” (H.R. Bukhari)
Semoga kita termasuk dalam kelompok orang-orang beriman di padang maksyar segera setelah kiamat terjadi. Amin. Wallahu a’lam.

Kekayaan Melimpah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, "tidak akan datang hari Kiamat hingga kekayaanmu berlimpah sedemikian banyaknya yang membuatnya takut, karena tidak akan ada orang yang mau menerima zakatnya dan orang yang kepada siapa zakat itu akan diberikan, akan menjawab, 'aku tidak membutuhkannya".

Ilmu (agama) akan Dicabut
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al Ash r.a. : aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda , “Allah tidak akan mengambil kembali ilmu (agama) dengan (cara) mengambilnya dari (dalam hati) manusia, tetapi mengambilnya kembali dengan kematian para ulama sampai tidak bersisa, lalu orang-orang akan mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya yang bila orang-orang itu bertanya kepada mereka, mereka akan memberikan jawaban-jawaban yang tidak didasarkan pada ilmu. Maka mereka akan berada dalam kesesatan dan menyesatkan orang-orang” 


Hadis shahih Bukhari no 1739

Dari Ibnu ‘Abbas ra, katanya: Saya dengar Rasulullah saw bersabda, “Seandainya seorang anak adam mempunyai harta sepenuh dua lembah, tentulah ia meminta agar diberi harta satu lembah lagi. Rongga batang tubuh anak Adam itu hanya dapat dipenuhi (dipuaskan) dengan tanah. Setelah itu Tuhan memberi tobat kepada siapa saja yang tobat.”

Hadis shahih Bukhari no 1740
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Kaya itu bukan karena banyak harta, tetapi kaya itu adalah kaya jiwa.”

--------------------------------------------------------------------------------

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ {51}1

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (51)


وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ 52

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (52)


فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ 53
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing) . (53)


فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ {54}4

Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. (54)


أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُم بِهِ مِن مَّالٍ وَبَنِينَ {55}
نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لَّا يَشْعُرُونَ {56}6


Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), (55) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka ? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (56)

Mengambil Yang Mudah Tinggalkan Yang Susah

Sebuah Hadist yg indah dan sarat dg makna. "Mengambil yg mudah, dan meghilangkan yg susah", karena sesungguhnya Islam itu mudah dan tidak membebani kaumnya sesuai dg ayat Allah dalam Qs Albaqarah ayat terakhir "Bahwa Allah tidak akan membebani suatu kaum melebihi kemampuannya (Laa yukallifullaahu nafsan illaa....... ).

Asbhabul hadist diatas seingat saya adalah ketika saat itu ada seorang sahabat yg bertanya kpd rasulullah SAW ttg sebuah hukum agama (sayangnya ana lupa matan hadist ini, afwan), dan Rasulullah menjelaskannya, tetapi sahabat itu masih tetep menanyakan detailnya, makanya Rasulullah SAW menjawab lagi sesuai dg Hadist Bukhari diatas, yg intinya untuk menyetop sahabat tersebut dari pertanyaan yg lbh detail yg justru akan menyulitkannya dalam mengamalkan hukum tersebut.

"Mengambil yg mudah dan meninggalkan yg susah", hadist ini sempat byk sekali menimbulkan salah faham diantara para thulab (scholar), yi kesalahan pada kecenderungan meringan-ringankan hukum agama yg tidak ada tuntutannya dari Rasulullah SAW. Sebagai contoh, haramnya Rokok. Kita ketahui bersama bahwa, sesuatu dijatuhi "Haram" hukumnya itu ada 2 jenis ,yaitu:
1) Haram dari sisi dzatnya (contoh babi, khamr yg sudah jelas dalilnya dalam al-qoran)
2) dan haram dari sisi sifatnya., contohnya rokok, karena rokok jauh lebih byk mudharatnya drpd maslahatnya. Selain itu rokok sangat bhy bagi kesehatan badan shg merokok termasuk menzalimi diri sendiri.

Tapi, kita ketahui bersama bahwa sebagian dari saudara muslim kita lebih suka mengambil pendapat bahwa rokok itu makruh, wlo pun ada pendapat tsb di sebagian kaum muslimin tapi jelas karena penggunaan akal dalam pengambilan hukumnya karenatidak adanya istinbath (pengambilan) dalil yg jelas. Itu lah salah satu contoh "meringan-ringankan hukum agama" karena sebagian nafsinya masih belum bisa meninggalkan kebiasaan merokok, wlo pun saya percaya, jika seorang muslim yg masih ada keimanan dalam hatinya, sebenarnya dia bisa bertanya pada nuraninya, bahwa rokok jelas2 byk mudharatnya ketimbang baiknya. Sumber penyimpangan seorang dari manhaj islam yg lurus itu ada 2:
1. Subhat (hal yg tidak jelas/meragukan)
2. Maksiyat
(Talbishu Iblish, Ibnul Jauzy)
Dan subhat jelas2 jauh lebih sulit diidentifikasikan daripada maksiyat, seperti semut hitam kecil di batu yg hitam legam (Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

"Mengambil yg mudah, meninggalkan yg susah", it means kita tetep harus berpegang pada Manhaj Rasul (ittiba'), karena syarat syahnya amal ada 2, yaitu:
1. Ikhlasnya niyat
2. ittiba' ar-rasul (mengikuti jalannya Rasul)
(Hadist Arbain-Nawawi)
agar kita tidak terjebak pada "Subhat" dan "Maksiyat". Untuk mengetahui mana subhat dan maksiyat, untuk itulah pentingnya "Thalabul 'ilmi" (menuntut ilmu), karena ilmu adalah basyirah (cahaya) yg akan menerangi jalan kita dan hati kita untuk bisa menerima kebenaran dan mengamalkannya. Amin.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.”
Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani, Al-Imam Al-Bukhari dalam beberapa tempat pada kitab Shahih-nya (no.71, 3116, 7312) dan Al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (no. 1038)

semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang2 yg senantiasa di bawah tuntunannya dan gigih dalam meniti ilmunya, karena barang siapa yg memudahkan jalannya menuju ilmu Allah, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّة

“Siapa yang menempuh sebuah jalan dalam rangka untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no.2699)

Jangan Bersedih Karena ditangguhkannya Rezeki

Orang yang tidak sabar menunggu datangnya rezeki dan selalu gundah karena semua kesenangannya tidak kunjung tiba adalah seperti makmum yang mendahului imam padahal tahu ia hanya boleh salam setelah imam melakukannya. Segala permasalahan manusia dan rezeki itu sudah ditentukan, dan sudah selesai lima puluh ribu tahun sebelum adanya penciptaan itu sendiri.

{Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan. }

(QS. An-Nahl: 1)

{Dan, jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya}

(QS. Yunus: 107)

Umar sendiri pernah berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekejaman orang-orang yang durjana dan kelemahan orang-orang yang bisa dipercaya.” Dan Doa ini merupakan ungkapan yang agung dan tulus. Saya sendiri telah mencermati catatan perjalanan sejarah dan saya mendapatkan kesimpulan bahwa rata-rata musuh-musuh Allah itu memiliki kesungguhan, keras, tekad dan ambisi. Aneh bin ajaib, memang. Ironisnya, kaum muslimin sendiri bermalas-malasan, loyo, bergantung pada yang lain, dan tidak semangat. Hanya Allah yang tahu. Tapi setidaknya, saya benar-benar memahami kedalaman makna ungkapan Umar di atas.

Kiamat

Allah berfirman tentang hari kebangkitan, “Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS Al-‘Ankabut [29]: 5-6)

لاَ تَقُوْمُ السَّاعّةُ حَتَّى تَظْهُرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْكِذْبُ وَتَتَقاَرَبُ الأَسْوَاقُ وَيَتَقَارَبُ الزَّمَانُ) [رواه الإمام أحمد].

Nabi Muhammad Saw. bersabda tentang hari Kiamat, “Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum munculnya fitnah, kebohongan meningkat, pasar berdekatan, dan waktu semakin dekat.” (HR Ahmad)

Doa Yang Diijabah

DOANYA TIDAK DITOLAK OLEH ALLAH.

ثلاثة لاتُرَدُّ دعوتُهم الإمام العادل والصآئم حتى يُفطِرَ ودعوة المظلوم يَرفَعُها الله دون الغمام يوم القيامة وتُفتَحُ لها أبوابُ السماء ويقول بعزّتى لأنصرنك ولو بعد حينٍ

Tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: Pemimpin Yang Adil, Orang yang berpuasa hingga dia berbuka dan doa orang yang dizalim…..diangkat oleh Allah di atas awan pada hari qiamat dan dibuka baginya pintu-pintu langit dan Allah berfirman, “ Demi kemuliaanKU pasti AKU menolong engkau walaupun hanya menunggu masa sahaja”.
(Riwayat Imam Ahmad, Tirmizi dan an-Nasai dan Ibn Majah )

Sujud Sajdah

Rasullulah SAW bersabda:
Dari Ibnu Umar r.a, :
" Ketika Nabi SAW membacakan surat yg mengandung ayat sajdah di hadapan kami, beliau langsung sujud dan kamipun sujud pula sehingga ada yang tidak mendapat tempat untuk sujud". (HR. Bukhari dan Imam Ahmad)

Note:
Terdapat 15 ayat sajdah didalam Al-qur'an, yaitu :
Surah Al A'raf 206, Ar-Ra'du 15, An-Nahl 50, Al-Isra'109, Maryam 58, Al-Hajj 18,77, Al-Furqon 60, An-Naml 26, As-Sajdah 15, Sad 24, Fushilat 38, An-Najm 62, Al-Insyiqoq 21, Al-Alaq 19.

Semoga Bermanfaat.

Hadist Mengenai Silahturahmi

DALAM suatu riwayat Rasulullah saw. pernah bertanya kepada para sahabatnya,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - : أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَكْرَمِ أَخْلاَقِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ؟ تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ

Nabi saw bersabda : Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu” (HR. Baihaqi)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada salat dan saum?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!” Rasulullah pun kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).

Persahabatan

بسم الله الرحمن الرحيم

“Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (Hadis riwayat al-Hakim)
Dari Nu’man bin Basyir r.a., Rasulullah SAW bersabda,

“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (Hadis riwayat Muslim)


“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (Hadis riwayat Muslim)


“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati.”

Banyak sekali hadis tentang kawan/sahabat ini. Ada pula pepatah Melayu mengatakan, “Berkawan biar seribu, berkasih biar satu.” Saya lebih selesa dengan berkawan biar berpada jumlahnya, lihat kualiti, bukan kuantiti. Berkasih jangan cuma satu sahaja, kalau mampu, biar ramai. Kasihkan Allah, Rasul-Nya, pasangan (suami/isteri) , anak-anak, keluarga, kaum kerabat, jiran dan juga kawan atau sahabat.

Allah SWT menciptakan makhluk di atas muka bumi ini berpasang-pasangan. Begitu juga manusia, tidak akan hidup bersendirian. Kita tidak boleh lari dari berkawan dan menjadi kawan kepada seseorang. Jika ada manusia yang tidak suka berkawan atau melarang orang lain daripada berkawan, dia dianggap ganjil dan tidak memenuhi ciri-ciri sebagai seorang manusia yang normal.


Inilah antara hikmah, kenapa Allah SWT mencipta manusia daripada berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa. Firman Allah SWT yang bermaksud:



“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (dan beramah mesra antara satu sama lain). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (surah al-Hujurat [049] ayat 13)

 

Dalam Islam, faktor memilih kawan amat dititik-beratkan. Hubungan persahabatan adalah hubungan yang sangat mulia, kerana kawan atau sahabat berperanan dalam membentuk personaliti individu. Ada kawan yang sanggup bersusah-payah dan berkongsi duka bersama kita, dan tidak kurang juga kawan yang nampak muka semasa senang dan hanya sanggup berkongsi kegembiraan sahaja.


Terdapat ayat yang mengisyaratkan mengenai peranan dan pengaruh kawan, antaranya firman-Nya yang bermaksud:



“Wahai orang yang beriman! Bertakwalah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang bersifat benar.” (Surah at-Taubah, ayat 119)

Pendek kata sahabat boleh menentukan corak hidup kita. Justeru, jika salah pilih sahabat kita akan merana dan menerima padahnya. Selari dengan hadis Rasululah SAW yang bermaksud:


“Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh itu hendaklah seseorang itu meneliti siapa yang menjadi temannya.” (Hadis riwayat Abu Daud).

Hadis al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ari, bermaksud:


“Diumpamakan rakan yang soleh dan rakan yang jahat ialah seperti (berkawan) dengan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi tidak akan mensia-siakan anda, sama ada anda membelinya atau hanya mendapat bau harumannya. Tukang besi pula boleh menyebabkan rumah anda atau baju anda terbakar, atau mendapat bau busuk.”

Apakah ciri-ciri seorang sahabat yang baik? Nasihat yang boleh diikuti dalam membina persahabatan ialah sebagaimana pesanan al-Qamah (seorang sahabat Rasulullah SAW) kepada anaknya:


“Wahai anakku, sekiranya engkau berasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka hendaklah engkau memilih orang yang sifatnya seperti berikut:


1 - Pilihlah sahabat yang suka melindungi sahabatnya, dia adalah hiasan diri kita dan jika kita dalam kekurangan nafkah, dia suka mencukupi keperluan.


2 – Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, dia suka menerima dengan rasa terharu, jikalau ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, dia suka menghitung-hitungka n (menyebutnya) .

3 – Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu dan dianggap sangat berguna, dan jika ia mengetahui mengenai keburukkan dirimu ia suka menutupinya.

4 – Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, dia mula menyapamu dulu dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, dia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburkanmu.

5 – Pilihlah sahabat yang jikalau engkau berkata, ia suka membenarkan ucapan dan bukan selalu mempercayainya saja. Jikalau engkau mengemukakan sesuatu persoalan yang berat dia suka mengusahakannya dan jika engkau berselisih dengannya, dia suka mengalah untuk kepentinganmu.
Dalam memilih sahabat hendaklah memilih sahabat yang baik agar segala matlamat dan hasrat untuk memperjuangkan Islam dapat dilaksanakan bersama-sama sahabat yang mulia.


Sebagai remaja yang terlepas daripada pandangan ayah ibu berhati-hatilah jika memilih kawan. Kerana kawan, kita bahagia tetapi kawan juga boleh menjahanamkan kita. Setelah kita dewasa, kita juga perlu berhati-hati memilih kawan kerana kita tidak mahu kawan-kawan yang melalaikan kita kepada Maha Pencipta. Kawan yang baik membantu kita ke arah pencapaian matlamat, iaitu kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Kawan yang tidak baik hanya membantutkan usaha kita ke arah itu.



Dalam kitab al-Hikam ada menyebut, “Jangan berkawan dengan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal kelakuannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah.” Dalam satu hadis yang bermaksud, “Seseorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, kerana itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).”


Sufyan Astsaury berkata, “Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka binasalah seperti mereka pula.”


Hati-hatilah atau tinggalkan sahaja sahabat seperti di bawah:



1. Sahabat yang tamak: ia sangat tamak, ia hanya memberi sedikit dan meminta yang banyak, dan ia hanya mementingkan diri sendiri.


2. Sahabat yang hipokrit: ia menyatakan bersahabat berkenaan dengan hal-hal lampau, atau hal-hal mendatang; ia berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; dan jika ada kesempatan membantu, ia menyatakan tidak sanggup.

3. Sahabat pengampu: Dia setuju dengan semua yang kamu lakukan tidak kira betul atau salah, yang parahnya dia setuju dengan hal yang tidak berani untuk menjelaskan kebenaran, di hadapanmu ia memuji dirimu, dan di belakangmu ia merendahkan dirimu.

4. Sahabat pemboros dan suka hiburan: ia menjadi kawanmu jika engkau suka pesta, suka berkeliaran dan ‘melepak’ pada waktu yang tidak sepatutnya, suka ke tempat-tempat hiburan dan pertunjukan.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,


“Sejahat-jahat teman ialah yang memaksa engkau bermuka-muka dan memaksa engkau meminta maaf atau selalu mencari alasan.”


Dan sekiranya engkau berkawan seorang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, lebih baik daripada berkawan dengan orang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat digelarkan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu, sebaliknya kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya.


Bagaimana akan dinamakan bodoh, seorang yang telah dapat menahan dan mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahawa semua amal perbuatannya hanya semata-mata untuk keredhaan Allah SWT dan bersih dari dorongan hawa nafsu. Sebaliknya, apakah erti suatu ilmu yang tidak dapat menahan atau memimpin hawa nafsu dari sifat kebinatangan dan kejahatannya.

Dalam sebuah hadis ada keterangan : “Seorang itu akan mengikuti pendirian sahabat karibnya, kerana itu hendaknya seseorang itu memperhatikan, siapakah yang harus dijadikan kawan.”

Menurut ahli syair pula : “Sesiapa bergaul dengan orang-orang yang baik, akan hidup mulia. Dan yang bergaul dengan orang-orang rendah akhlaknya, pasti tidak mulia.”


Bersahabat dengan yang lebih rendah budi dan imannya sangat berbahaya, sebab persahabatan itu saling pengaruh-mempengaruhi, percaya-mempercayai sehingga dengan demikian sukar sekali untuk dapat melihat datu memperbaiki kesalahan sahabat yang kita sayangi, bahkan kesetiaan sahabat akan membela kita dalam kesalahan dosa kekeliruan itu, yang dengan itu kita pasti akan binasa kerananya.


Hati-hatilah memilih kawan, kerana kawan boleh menjadi cermin peribadi seseorang. Apa pun berkawanlah kerana Allah SWT untuk mencari ridha-Nya.


Sumber daripada : Taman-Taman Syurga


"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan itu hanyalah orang-orang yang tidak beriman dengan ayat-ayat Allah dan merekalah pembohong-pembohong." (An-Nahl ayat 105)


"Barangsiapa mengatakan dariku apa yang aku tidak katakan, maka hendaklah Ia bersedia mengambil tempatnya dari Neraka."(HR: Az-Zahabi dlm Al-Kabair.)

Hukum Gambar Makhluk Bernyawa


“Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) itu di neraka. Allah memberi jiwa/ ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia), maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”

Kemudian, setelah menyampaikan hadits Rasulullah n Ibnu Abbas c menasehatkan: “Jika kamu memang terpaksa melakukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar), maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ruh.”

Dalil berikut ini lebih mempertegas lagi haramnya gambar makhluk bernyawa: ‘Aisyahxberkata: “Rasulullah n datang dari safar (bepergian jauh) sementara saat itu aku telah menutupi sahwah3ku dengan qiram (kain tipis berwarna-warni) yang berlukis/ bergambar. Ketika Rasulullah n melihatnya, beliau menyentakkannya hingga terlepas dari tempatnya seraya berkata:
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يُضَاهِؤُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ - رواه البخار ومسلم -
Orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang yang meniru ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra.)

“Manusia yang paling keras siksaan yang diterimanya pada hari kiamat nanti adalah mereka yang menandingi (membuat sesuatu yang menyerupai) ciptaan Allah.”

Kata  Aisyah: “Maka kami pun memotong-motong qiram tersebut untuk dijadikan satu atau dua bantal.”4
Dalam riwayat berikut disebutkan bentuk gambar itu, seperti yang diberitakan ‘Aisyah:

“Rasulullah datang dari safar sementara aku menutupi pintuku dengan durnuk (tabir dari kain tebal berbulu, seperti permadani yang dipasang di dinding), yang terdapat gambar kuda-kuda yang memiliki sayap. Maka beliau memerintahkan aku untuk mencabut tabir tersebut, maka akupun melepasnya.”

Masih hadits Aisyahx,ia mengabarkan pernah membeli namruqah6 bergambar makhluk bernyawa. Nabi r berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk ke dalam rumah. Aisyah pun berkata: “Aku bertaubat kepada Allah, apa dosaku?” Nabi berkata: “Untuk apa namruqah ini?” Aku menjawab: “Untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar dengannya.”

Beliau bersabda:
“Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat, dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan, dan sungguh para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar"

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya mengisyaratkan, kedua hadits di atas8 tidaklah saling bertentangan bahkan satu dengan lainnya bisa dikumpulkan. Karena bolehnya memanfaatkan bahan yang bergambar (makhluk bernyawa) untuk diinjak atau diduduki9 tidak berarti boleh duduk di atas gambar. Maka bisa jadi yang dijadikan bantal oleh Aisyah x adalah pada bagian qiram yang tidak ada gambarnya. Atau gambar makhluk hidup pada qiram tersebut telah terpotong kepalanya atau terpotong pada bagian tengah gambar sehingga tidak lagi berbentuk makhluk hidup, maka Nabi pun tidak mengingkari apa yang dilakukan Aisyah. (Fathul Bari, 10/479)

Asy-Syaikh Muqbil berkata: “Dalil-dalil ini menunjukkan haramnya seluruh gambar makhluk bernyawa, baik yang memiliki bayangan (tiga dimensi) atau tidak memiliki bayangan (dua dimensi). Hadits qiram menun-jukkan haramnya gambar makhluk hidup yang tidak memiliki bayangan. Demikian pula perintah Nabi r untuk menghapus gambar-gambar yang ada di dinding Ka’bah, maka gambar-gambar tersebut dihapus dengan menggunakan kain perca dan air.”

Beliau juga berkata: “Lebih utama bila rumah dibersihkan dari gambar-gambar yang dihinakan sekalipun (seperti gambar yang ada di keset, yang diinjak-injak oleh kaki-kaki manusia) agar malaikat tidak tercegah/tertahan untuk masuk ke dalam rumah. Dan juga Nabi r memerintahkan agar gambar-gambar yang ada pada namruqah dipotong, dan bisa jadi gambar-gambar yang ada pada hamparan itu telah terpotong gambarnya sehingga bentuknya menjadi seperti pohon.” (Hukmu Tashwir, hal. 31)

Abu Hurairah t berkata: Rasulullah r bersabda: “Jibril datang menemuiku, beliau berkata: ‘Sesungguhnya aku semalam menda-tangimu, namun tidak ada yang mencegahku untuk masuk ke rumah yang engkau berada di dalamnya melainkan karena di pintu rumah itu ada patung laki-laki, dan di dalam rumah itu ada qiram bergambar yang digunakan sebagai penutup, di samping itu pula di rumah tersebut ada seekor anjing. Maka perintahkanlah kepada seseorang agar kepala patung yang ada di pintu rumah itu dipotong sehingga bentuknya seperti pohon, perintahkan pula agar kain penutup itu dipotong-potong untuk dijadikan dua bantal yang bisa dibuat pijakan, dan juga perintahkan agar anjing itu dikeluarkan’.” Rasulullah r pun melaksanakan instruksi Jibril tersebut. (HR. At-Tirmidzi no. 2806, kitab Al-Libas ‘an Rasulullah r, bab Ma Ja`a Annal Malaikah la Tadkhulu Baitan fihi Shurah wa la Kalb, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami`ush Shahih, 4/319)

Ibnu Abbas berkata: “Gambar itu dikatakan hidup bila memiliki kepala. Maka jika kepalanya dipotong tidak lagi teranggap gambar hidup.”

Riwayat mauquf10 ini dibawakan Al-Baihaqi t dalam Sunan-nya (7/270) dan isnadnya shahih sampai Ibnu Abbas c, kata Asy-Syaikh Muqbil t.11 (Hukmu Tashwir, hal. 55)

Gambar Makhluk Hidup untuk Kepentingan Belajar Mengajar
Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Pendapat yang membolehkan gambar untuk kepentingan pengajaran tidaklah ada dalilnya. Bahkan hadits tentang dilaknatnya tukang gambar yang telah lewat penyebutannya sudah meliputi hal ini. Dan juga bila hal ini dibolehkan akan menumbuhkan sikap meremehkan perbuatan maksiat tashwir (membuat gambar) di jiwa para pelajar. Sehingga mereka akan meniru perbuatan tersebut yang berakibat mereka bersiap-siap menghadapi laknat Allah bila mereka belum baligh dan mereka dilaknat bila sudah baligh. Mereka akan menolong perbuatan maksiat bahkan akan membelanya. Bila demikian, di manakah rasa tanggung jawab (para pendidik)? Rasulullahr telah bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.”
“Tidak ada seorangpun yang dijadikan sebagai pemimpin oleh Allah namun dia tidak memimpin rakyatnya tersebut dengan penuh nasihat (tidak mengemban amanah dengan baik malah berkhianat kepada rakyatnya) melainkan sebagai ganjarannya dia tidak akan mendapatkan (mencium) wanginya surga.”

Nabi SAW sungguh sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dengan tarbiyyah diniyyah (pendidikan agama). Beliau pernah bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan di atas fithrah, maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Beliau juga bersabda dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkannya dari Rabbnya:
“(Allah berfirman:) sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan hanif lalu setan membawa pergi/ mengalihkan mereka (dari kelurusannya).”
 
Dengan demikian haram bagi guru/ pendidik dan bagi pemerintah/ penguasa untuk memberi kesempatan dan kemungkinan bagi para pelajar untuk menggambar (makhluk hidup). (Hukmu Tashwir, hal. 34-35)
Dan sabdanya Shollallhu ‘alaihi wassalam :

Sesunguhnya para pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat, kepada mereka akan dikatakan,”Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan itu.“ (HR. Bukhari, Muslim dan Ash Habus Sunan)

Dari Abu Zur’ah ia berkata, ”Aku masuk bersama Abu Hurairah di rumah Marwan bin Hakam, di rumah itu Abu Hurairah melihat gambar-gambar sedang dibangun, kemudian dia berkata, ”Aku mendengar Rasululah Shollallhu ‘alaihi wassalam bersabda :

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ بِخَلْقٍ يَخْلُقُ فَلْيَخْلُقُوْا ذَرَّةً أَوْفَلْيَخْلُقُوْا حَبَّةً أَوْ فَلْيَخْلُقُوْا شَعِيْرَةً
Allah Maha Perkasa lagi Maha Jaya berfirman,“Siapakah orang yang lebih zhalim dari orang yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan-Ku, cobalah mereka menciptakan sebiji dzarrah atau sebiji benih atau sebiji gandum.” ( HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya, ”Saya melukis lukisan-lukisan ini, berilah fatwa mengenai pekerjaan saya ini !” Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Mendekatlah kepadaku !”. Orang itu mendekat tetapi Ibnu Abbas masih berkata lagi, “Dekatlah lagi kepadaku !”. Orang itu lebih mendekat lagi sampai Ibnu Abbas dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang itu lalu berkata,“Aku akan memberi tahu apa yang aku dengar dari Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wassalam , aku telah mendengar beliau bersabda :

كُلُّ مُصَوِّرٍفِي النَّارِ يُجْعَلُ لَهُ كُلَّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسٌ فَيُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ
Setiap pelukis akan masuk neraka, dan setiap lukisan yang ia lukiskan akan diberi nyawa, lalu lukisan itu akan menyiksanya di neraka jahanam.”

Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Kalau anda terpaksa harus melukis, maka lukislah pohon atau benda lain yang tidak bernyawa !” (HR. Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)
 Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata,”Aku telah mendengar beliau Shollallhu ‘alaihi wassalam bersabda :

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فَإِنَّ اللهَ يُعَذِّبُهُ حَتَّي يُنْفِخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيْهَا أَبَدًا
Barang siapa melukis suatu lukisan, maka Allah akan menyiksanya (di hari kiamat) hingga ia meniupkan ruh ke dalam lukisan itu tetapi ia tidak akan dapat sama sekali meniupkan ruh dalam lukisan itu “. Lalu Ibnu Abbas berkata sebagaimana di atas.

Diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu anha. bahwasanya ia membeli sebuah bantal yang terhias dengan gambar-gambar, setelah Nabi Muhammad melihatnya, Beliau berdiri di muka pintu dan tidak mau masuk, Aisyah berkata, ”Aku mengetahui dari raut mukanya bahwa ada sesuatu yang tidak Beliau sukai.” Aku berkata, ”Ya Rasulullah aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apa dosaku ?” Beliau bersabda ,”Apakah bantal ini ?” Aku menjawab ,”Aku membelinya untukmu agar kau pakai sebagai alas dudukmu dan galang kepala” Beliau bersabda ,”Pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka,” Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan“ Beliau lalu bersabda :
إِنَّ اْلبَيْتَ اَّلذِي فِيْهِ الصُّوَرُ لاَتَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ
Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar dan lukisan tidak akan dimasuki malaikat.” (H.R. Bukhari Muslim dan Ash Habussunan )

Dari Abul Hayyay Al Asadi ia berkata, ”Ali bin Abi Thalib berkata kepada saya :”Sukakah anda kuutus seperti tugas Rasulullah yang telah mengutusku, yaitu janganlah membiarkan satu lukisan melainkan hendaklah kau musnahkan, dan janganlah membiarkan suatu makam yang menonjol melainkan hendaklah kau ratakan.” (HR.Muslim)

Dari ‘Aisyah beliau berkata, “Ketika Nabi Shollallhu ‘alaihi wassalam sedang keluar ke medan perang, aku membeli sehelai kain pelangi dan kupasang pada pintu sebagai tabir, setelah Nabi kembali dan melihat kain itu, aku melihat dari raut mukanya bahwa ada sesuatu yang tidak beliau sukai. Beliau menarik kain itu hingga merobeknya. Beliau bersabda, ”Allah tidak memerintahkan kita menyelubungi batu dan pasir.” ‘Aisyah berkata lalu aku potong kain itu dan menjadikannya dua helai kain bantal. Beliau tidak mencela aku atas apa yang aku lakukan itu” (HR. Bukhari, Muslim dan Ash Habussunan )
 ’Aisyah berkata, ”Ketika Nabi Muhammad menderita sakit, salah seorang istrinya bercerita tentang sebuah gereja yang diberi nama “gereja maria”. Ummu Habibah dan Ummu Salamah sudah pernah hijrah ke Habasyah (Ethiopia) mereka menceritakan kebagusan gereja itu dan keindahan lukisan yang ada di dalamnya. Mendengar itu, Nabi mengangkat kepalanya dan bersabda, “Mereka itu, apabila salah seorang yang saleh diantara mereka meninggal dunia mereka membangun tempat peribadatan di atas makamnya, lalu dalam tempat peribadatan itu mereka lukis gambar-gambar itu, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk Allah.” (HR.Bukhari, Muslim dan An Nasai) dan masih banyak hadits yang serupa.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.