“Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) itu di neraka. Allah memberi jiwa/
ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di
dunia), maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”
Kemudian, setelah menyampaikan hadits Rasulullah n Ibnu Abbas c menasehatkan:
“Jika kamu memang terpaksa melakukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar),
maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ruh.”
Dalil berikut ini lebih mempertegas lagi haramnya gambar makhluk bernyawa:
‘Aisyahxberkata: “Rasulullah n datang dari safar (bepergian jauh) sementara
saat itu aku telah menutupi sahwah3ku dengan qiram (kain tipis berwarna-warni)
yang berlukis/ bergambar. Ketika Rasulullah n melihatnya, beliau
menyentakkannya hingga terlepas dari tempatnya seraya berkata:
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا
يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يُضَاهِؤُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ - رواه البخار ومسلم -
“Orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang
yang meniru ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra.)
“Manusia yang paling keras siksaan yang diterimanya pada hari kiamat nanti
adalah mereka yang menandingi (membuat sesuatu yang menyerupai) ciptaan Allah.”
Kata Aisyah: “Maka kami pun memotong-motong qiram tersebut untuk
dijadikan satu atau dua bantal.”4
Dalam riwayat berikut disebutkan bentuk gambar itu, seperti yang diberitakan
‘Aisyah:
“Rasulullah datang dari safar sementara aku menutupi pintuku dengan durnuk
(tabir dari kain tebal berbulu, seperti permadani yang dipasang di dinding), yang terdapat gambar kuda-kuda yang memiliki sayap. Maka beliau
memerintahkan aku untuk mencabut tabir tersebut, maka akupun melepasnya.”
Masih hadits Aisyahx,ia mengabarkan pernah membeli namruqah6 bergambar makhluk
bernyawa. Nabi r berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk ke dalam rumah.
Aisyah pun berkata: “Aku bertaubat kepada Allah, apa dosaku?” Nabi berkata:
“Untuk apa namruqah ini?” Aku menjawab: “Untuk engkau duduk di atasnya dan
bersandar dengannya.”
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat,
dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan, dan sungguh
para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar"
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Bukhari t dalam
Shahih-nya mengisyaratkan, kedua hadits di atas8 tidaklah saling bertentangan
bahkan satu dengan lainnya bisa dikumpulkan. Karena bolehnya memanfaatkan bahan
yang bergambar (makhluk bernyawa) untuk diinjak atau diduduki9 tidak berarti
boleh duduk di atas gambar. Maka bisa jadi yang dijadikan bantal oleh Aisyah x
adalah pada bagian qiram yang tidak ada gambarnya. Atau gambar makhluk hidup
pada qiram tersebut telah terpotong kepalanya atau terpotong pada bagian tengah
gambar sehingga tidak lagi berbentuk makhluk hidup, maka Nabi pun tidak
mengingkari apa yang dilakukan Aisyah. (Fathul Bari, 10/479)
Asy-Syaikh Muqbil berkata: “Dalil-dalil ini menunjukkan haramnya seluruh
gambar makhluk bernyawa, baik yang memiliki bayangan (tiga dimensi) atau tidak
memiliki bayangan (dua dimensi). Hadits qiram menun-jukkan haramnya gambar
makhluk hidup yang tidak memiliki bayangan. Demikian pula perintah Nabi r untuk
menghapus gambar-gambar yang ada di dinding Ka’bah, maka gambar-gambar tersebut
dihapus dengan menggunakan kain perca dan air.”
Beliau juga berkata: “Lebih utama bila rumah dibersihkan dari gambar-gambar
yang dihinakan sekalipun (seperti gambar yang ada di keset, yang diinjak-injak
oleh kaki-kaki manusia) agar malaikat tidak tercegah/tertahan untuk masuk ke
dalam rumah. Dan juga Nabi r memerintahkan agar gambar-gambar yang ada pada
namruqah dipotong, dan bisa jadi gambar-gambar yang ada pada hamparan itu telah
terpotong gambarnya sehingga bentuknya menjadi seperti pohon.” (Hukmu Tashwir,
hal. 31)
Abu Hurairah t berkata: Rasulullah r bersabda: “Jibril datang menemuiku, beliau
berkata: ‘Sesungguhnya aku semalam menda-tangimu, namun tidak ada yang
mencegahku untuk masuk ke rumah yang engkau berada di dalamnya melainkan karena
di pintu rumah itu ada patung laki-laki, dan di dalam rumah itu ada qiram
bergambar yang digunakan sebagai penutup, di samping itu pula di rumah tersebut
ada seekor anjing. Maka perintahkanlah kepada seseorang agar kepala patung yang
ada di pintu rumah itu dipotong sehingga bentuknya seperti pohon, perintahkan
pula agar kain penutup itu dipotong-potong untuk dijadikan dua bantal yang bisa
dibuat pijakan, dan juga perintahkan agar anjing itu dikeluarkan’.” Rasulullah
r pun melaksanakan instruksi Jibril tersebut. (HR. At-Tirmidzi no. 2806, kitab
Al-Libas ‘an Rasulullah r, bab Ma Ja`a Annal Malaikah la Tadkhulu Baitan fihi
Shurah wa la Kalb, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami`ush Shahih,
4/319)
Ibnu Abbas berkata: “Gambar itu dikatakan hidup bila memiliki kepala. Maka
jika kepalanya dipotong tidak lagi teranggap gambar hidup.”
Riwayat mauquf10 ini dibawakan Al-Baihaqi t dalam Sunan-nya (7/270) dan
isnadnya shahih sampai Ibnu Abbas c, kata Asy-Syaikh Muqbil t.11 (Hukmu
Tashwir, hal. 55)
Gambar Makhluk Hidup untuk
Kepentingan Belajar Mengajar
Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Pendapat yang membolehkan gambar untuk kepentingan pengajaran tidaklah ada dalilnya. Bahkan hadits tentang dilaknatnya tukang gambar yang telah lewat penyebutannya sudah meliputi hal ini. Dan juga bila hal ini dibolehkan akan menumbuhkan sikap meremehkan perbuatan maksiat tashwir (membuat gambar) di jiwa para pelajar. Sehingga mereka akan meniru perbuatan tersebut yang berakibat mereka bersiap-siap menghadapi laknat Allah bila mereka belum baligh dan mereka dilaknat bila sudah baligh. Mereka akan menolong perbuatan maksiat bahkan akan membelanya. Bila demikian, di manakah rasa tanggung jawab (para pendidik)? Rasulullahr telah bersabda:
Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Pendapat yang membolehkan gambar untuk kepentingan pengajaran tidaklah ada dalilnya. Bahkan hadits tentang dilaknatnya tukang gambar yang telah lewat penyebutannya sudah meliputi hal ini. Dan juga bila hal ini dibolehkan akan menumbuhkan sikap meremehkan perbuatan maksiat tashwir (membuat gambar) di jiwa para pelajar. Sehingga mereka akan meniru perbuatan tersebut yang berakibat mereka bersiap-siap menghadapi laknat Allah bila mereka belum baligh dan mereka dilaknat bila sudah baligh. Mereka akan menolong perbuatan maksiat bahkan akan membelanya. Bila demikian, di manakah rasa tanggung jawab (para pendidik)? Rasulullahr telah bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang
kepemimpinannya.”
“Tidak ada seorangpun yang dijadikan sebagai pemimpin oleh Allah namun dia
tidak memimpin rakyatnya tersebut dengan penuh nasihat (tidak mengemban amanah dengan baik
malah berkhianat kepada rakyatnya) melainkan sebagai ganjarannya dia
tidak akan mendapatkan (mencium) wanginya surga.”
Nabi SAW sungguh sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dengan tarbiyyah
diniyyah (pendidikan agama). Beliau pernah bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan di atas fithrah, maka kedua ibu bapaknyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Beliau juga bersabda dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkannya dari
Rabbnya:
“(Allah berfirman:) sesungguhnya Aku menciptakan
hamba-Ku dalam keadaan hanif lalu setan membawa pergi/ mengalihkan mereka
(dari kelurusannya).”
Dengan demikian haram bagi guru/ pendidik dan bagi pemerintah/ penguasa untuk
memberi kesempatan dan kemungkinan bagi para pelajar untuk menggambar (makhluk
hidup). (Hukmu Tashwir, hal. 34-35)
Dan sabdanya Shollallhu
‘alaihi wassalam :
“Sesunguhnya para pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari
kiamat, kepada mereka akan dikatakan,”Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan itu.“ (HR. Bukhari, Muslim dan Ash
Habus Sunan)
Dari Abu Zur’ah
ia berkata, ”Aku masuk bersama Abu Hurairah di rumah Marwan bin Hakam, di rumah
itu Abu Hurairah melihat gambar-gambar sedang dibangun, kemudian dia berkata,
”Aku mendengar Rasululah Shollallhu ‘alaihi wassalam bersabda :
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ بِخَلْقٍ يَخْلُقُ فَلْيَخْلُقُوْا ذَرَّةً
أَوْفَلْيَخْلُقُوْا حَبَّةً أَوْ فَلْيَخْلُقُوْا شَعِيْرَةً
“Allah Maha Perkasa lagi Maha Jaya berfirman,“Siapakah orang yang
lebih zhalim dari orang yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan-Ku,
cobalah mereka menciptakan sebiji dzarrah atau sebiji benih atau sebiji
gandum.” (
HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki
berkata kepadanya, ”Saya melukis lukisan-lukisan ini, berilah fatwa mengenai
pekerjaan saya ini !” Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Mendekatlah kepadaku !”.
Orang itu mendekat tetapi Ibnu Abbas masih berkata lagi, “Dekatlah lagi
kepadaku !”. Orang itu lebih mendekat lagi sampai Ibnu Abbas dapat meletakkan
tangannya di atas kepala orang itu lalu berkata,“Aku akan memberi tahu apa yang
aku dengar dari Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wassalam , aku telah mendengar
beliau bersabda :
كُلُّ مُصَوِّرٍفِي النَّارِ
يُجْعَلُ لَهُ كُلَّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسٌ فَيُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ
“Setiap pelukis akan masuk neraka, dan setiap lukisan yang ia
lukiskan akan diberi nyawa, lalu lukisan itu akan menyiksanya di neraka
jahanam.”
Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Kalau anda terpaksa harus
melukis, maka lukislah pohon atau benda lain yang tidak bernyawa !” (HR.
Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)
Dalam riwayat
yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata,”Aku telah mendengar beliau
Shollallhu ‘alaihi wassalam bersabda :
مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فَإِنَّ
اللهَ يُعَذِّبُهُ حَتَّي يُنْفِخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيْهَا
أَبَدًا
“Barang siapa melukis suatu lukisan, maka Allah akan menyiksanya
(di hari kiamat) hingga ia meniupkan ruh ke dalam lukisan itu tetapi ia tidak
akan dapat sama sekali meniupkan ruh dalam lukisan itu “. Lalu Ibnu Abbas berkata
sebagaimana di atas.
Diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu anha. bahwasanya ia
membeli sebuah bantal yang terhias dengan gambar-gambar, setelah Nabi Muhammad
melihatnya, Beliau berdiri di muka pintu dan tidak mau masuk, Aisyah berkata,
”Aku mengetahui dari raut mukanya bahwa ada sesuatu yang tidak Beliau sukai.”
Aku berkata, ”Ya Rasulullah aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apa
dosaku ?” Beliau bersabda ,”Apakah
bantal ini ?” Aku menjawab ,”Aku membelinya untukmu agar kau pakai
sebagai alas dudukmu dan galang kepala” Beliau bersabda ,”Pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada
hari kiamat dan dikatakan kepada mereka,” Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan“
Beliau lalu bersabda :
إِنَّ اْلبَيْتَ اَّلذِي فِيْهِ الصُّوَرُ لاَتَدْخُلُهُ
الْمَلاَئِكَةُ
“ Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar dan lukisan tidak
akan dimasuki malaikat.” (H.R. Bukhari Muslim dan Ash Habussunan )
Dari Abul Hayyay Al
Asadi ia berkata, ”Ali bin Abi Thalib berkata kepada saya :”Sukakah anda kuutus
seperti tugas Rasulullah yang telah mengutusku, yaitu janganlah membiarkan satu
lukisan melainkan hendaklah kau musnahkan, dan janganlah membiarkan suatu makam
yang menonjol melainkan hendaklah kau ratakan.” (HR.Muslim)
Dari ‘Aisyah
beliau berkata, “Ketika Nabi Shollallhu ‘alaihi wassalam sedang keluar ke medan
perang, aku membeli sehelai kain pelangi dan kupasang pada pintu sebagai tabir,
setelah Nabi kembali dan melihat kain itu, aku melihat dari raut mukanya bahwa
ada sesuatu yang tidak beliau sukai. Beliau menarik kain itu hingga merobeknya.
Beliau bersabda, ”Allah tidak
memerintahkan kita menyelubungi batu dan pasir.” ‘Aisyah berkata
lalu aku potong kain itu dan menjadikannya dua helai kain bantal. Beliau tidak
mencela aku atas apa yang aku lakukan itu” (HR. Bukhari, Muslim dan Ash
Habussunan )
’Aisyah berkata,
”Ketika Nabi Muhammad menderita sakit, salah seorang istrinya bercerita tentang
sebuah gereja yang diberi nama “gereja maria”. Ummu Habibah dan Ummu Salamah
sudah pernah hijrah ke
Habasyah (Ethiopia) mereka menceritakan kebagusan gereja itu dan keindahan
lukisan yang ada di dalamnya. Mendengar itu, Nabi mengangkat kepalanya dan
bersabda, “Mereka itu, apabila
salah seorang yang saleh diantara mereka meninggal dunia mereka membangun
tempat peribadatan di atas makamnya, lalu dalam tempat peribadatan itu mereka
lukis gambar-gambar itu, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk Allah.” (HR.Bukhari,
Muslim dan An Nasai) dan masih banyak hadits yang serupa.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.