Senin, 18 Juni 2012

Hukum Gambar Makhluk Bernyawa


“Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) itu di neraka. Allah memberi jiwa/ ruh kepada setiap gambar (makhluk hidup) yang pernah ia gambar (ketika di dunia), maka gambar-gambar tersebut akan menyiksanya di neraka Jahannam.”

Kemudian, setelah menyampaikan hadits Rasulullah n Ibnu Abbas c menasehatkan: “Jika kamu memang terpaksa melakukan hal itu (bekerja sebagai tukang gambar), maka buatlah gambar pohon dan benda-benda yang tidak memiliki jiwa/ruh.”

Dalil berikut ini lebih mempertegas lagi haramnya gambar makhluk bernyawa: ‘Aisyahxberkata: “Rasulullah n datang dari safar (bepergian jauh) sementara saat itu aku telah menutupi sahwah3ku dengan qiram (kain tipis berwarna-warni) yang berlukis/ bergambar. Ketika Rasulullah n melihatnya, beliau menyentakkannya hingga terlepas dari tempatnya seraya berkata:
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يُضَاهِؤُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ - رواه البخار ومسلم -
Orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang yang meniru ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra.)

“Manusia yang paling keras siksaan yang diterimanya pada hari kiamat nanti adalah mereka yang menandingi (membuat sesuatu yang menyerupai) ciptaan Allah.”

Kata  Aisyah: “Maka kami pun memotong-motong qiram tersebut untuk dijadikan satu atau dua bantal.”4
Dalam riwayat berikut disebutkan bentuk gambar itu, seperti yang diberitakan ‘Aisyah:

“Rasulullah datang dari safar sementara aku menutupi pintuku dengan durnuk (tabir dari kain tebal berbulu, seperti permadani yang dipasang di dinding), yang terdapat gambar kuda-kuda yang memiliki sayap. Maka beliau memerintahkan aku untuk mencabut tabir tersebut, maka akupun melepasnya.”

Masih hadits Aisyahx,ia mengabarkan pernah membeli namruqah6 bergambar makhluk bernyawa. Nabi r berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk ke dalam rumah. Aisyah pun berkata: “Aku bertaubat kepada Allah, apa dosaku?” Nabi berkata: “Untuk apa namruqah ini?” Aku menjawab: “Untuk engkau duduk di atasnya dan bersandar dengannya.”

Beliau bersabda:
“Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat, dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan, dan sungguh para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar"

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahih-nya mengisyaratkan, kedua hadits di atas8 tidaklah saling bertentangan bahkan satu dengan lainnya bisa dikumpulkan. Karena bolehnya memanfaatkan bahan yang bergambar (makhluk bernyawa) untuk diinjak atau diduduki9 tidak berarti boleh duduk di atas gambar. Maka bisa jadi yang dijadikan bantal oleh Aisyah x adalah pada bagian qiram yang tidak ada gambarnya. Atau gambar makhluk hidup pada qiram tersebut telah terpotong kepalanya atau terpotong pada bagian tengah gambar sehingga tidak lagi berbentuk makhluk hidup, maka Nabi pun tidak mengingkari apa yang dilakukan Aisyah. (Fathul Bari, 10/479)

Asy-Syaikh Muqbil berkata: “Dalil-dalil ini menunjukkan haramnya seluruh gambar makhluk bernyawa, baik yang memiliki bayangan (tiga dimensi) atau tidak memiliki bayangan (dua dimensi). Hadits qiram menun-jukkan haramnya gambar makhluk hidup yang tidak memiliki bayangan. Demikian pula perintah Nabi r untuk menghapus gambar-gambar yang ada di dinding Ka’bah, maka gambar-gambar tersebut dihapus dengan menggunakan kain perca dan air.”

Beliau juga berkata: “Lebih utama bila rumah dibersihkan dari gambar-gambar yang dihinakan sekalipun (seperti gambar yang ada di keset, yang diinjak-injak oleh kaki-kaki manusia) agar malaikat tidak tercegah/tertahan untuk masuk ke dalam rumah. Dan juga Nabi r memerintahkan agar gambar-gambar yang ada pada namruqah dipotong, dan bisa jadi gambar-gambar yang ada pada hamparan itu telah terpotong gambarnya sehingga bentuknya menjadi seperti pohon.” (Hukmu Tashwir, hal. 31)

Abu Hurairah t berkata: Rasulullah r bersabda: “Jibril datang menemuiku, beliau berkata: ‘Sesungguhnya aku semalam menda-tangimu, namun tidak ada yang mencegahku untuk masuk ke rumah yang engkau berada di dalamnya melainkan karena di pintu rumah itu ada patung laki-laki, dan di dalam rumah itu ada qiram bergambar yang digunakan sebagai penutup, di samping itu pula di rumah tersebut ada seekor anjing. Maka perintahkanlah kepada seseorang agar kepala patung yang ada di pintu rumah itu dipotong sehingga bentuknya seperti pohon, perintahkan pula agar kain penutup itu dipotong-potong untuk dijadikan dua bantal yang bisa dibuat pijakan, dan juga perintahkan agar anjing itu dikeluarkan’.” Rasulullah r pun melaksanakan instruksi Jibril tersebut. (HR. At-Tirmidzi no. 2806, kitab Al-Libas ‘an Rasulullah r, bab Ma Ja`a Annal Malaikah la Tadkhulu Baitan fihi Shurah wa la Kalb, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami`ush Shahih, 4/319)

Ibnu Abbas berkata: “Gambar itu dikatakan hidup bila memiliki kepala. Maka jika kepalanya dipotong tidak lagi teranggap gambar hidup.”

Riwayat mauquf10 ini dibawakan Al-Baihaqi t dalam Sunan-nya (7/270) dan isnadnya shahih sampai Ibnu Abbas c, kata Asy-Syaikh Muqbil t.11 (Hukmu Tashwir, hal. 55)

Gambar Makhluk Hidup untuk Kepentingan Belajar Mengajar
Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Pendapat yang membolehkan gambar untuk kepentingan pengajaran tidaklah ada dalilnya. Bahkan hadits tentang dilaknatnya tukang gambar yang telah lewat penyebutannya sudah meliputi hal ini. Dan juga bila hal ini dibolehkan akan menumbuhkan sikap meremehkan perbuatan maksiat tashwir (membuat gambar) di jiwa para pelajar. Sehingga mereka akan meniru perbuatan tersebut yang berakibat mereka bersiap-siap menghadapi laknat Allah bila mereka belum baligh dan mereka dilaknat bila sudah baligh. Mereka akan menolong perbuatan maksiat bahkan akan membelanya. Bila demikian, di manakah rasa tanggung jawab (para pendidik)? Rasulullahr telah bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.”
“Tidak ada seorangpun yang dijadikan sebagai pemimpin oleh Allah namun dia tidak memimpin rakyatnya tersebut dengan penuh nasihat (tidak mengemban amanah dengan baik malah berkhianat kepada rakyatnya) melainkan sebagai ganjarannya dia tidak akan mendapatkan (mencium) wanginya surga.”

Nabi SAW sungguh sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dengan tarbiyyah diniyyah (pendidikan agama). Beliau pernah bersabda:
“Setiap anak itu dilahirkan di atas fithrah, maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Beliau juga bersabda dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkannya dari Rabbnya:
“(Allah berfirman:) sesungguhnya Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan hanif lalu setan membawa pergi/ mengalihkan mereka (dari kelurusannya).”
 
Dengan demikian haram bagi guru/ pendidik dan bagi pemerintah/ penguasa untuk memberi kesempatan dan kemungkinan bagi para pelajar untuk menggambar (makhluk hidup). (Hukmu Tashwir, hal. 34-35)
Dan sabdanya Shollallhu ‘alaihi wassalam :

Sesunguhnya para pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat, kepada mereka akan dikatakan,”Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan itu.“ (HR. Bukhari, Muslim dan Ash Habus Sunan)

Dari Abu Zur’ah ia berkata, ”Aku masuk bersama Abu Hurairah di rumah Marwan bin Hakam, di rumah itu Abu Hurairah melihat gambar-gambar sedang dibangun, kemudian dia berkata, ”Aku mendengar Rasululah Shollallhu ‘alaihi wassalam bersabda :

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ بِخَلْقٍ يَخْلُقُ فَلْيَخْلُقُوْا ذَرَّةً أَوْفَلْيَخْلُقُوْا حَبَّةً أَوْ فَلْيَخْلُقُوْا شَعِيْرَةً
Allah Maha Perkasa lagi Maha Jaya berfirman,“Siapakah orang yang lebih zhalim dari orang yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan-Ku, cobalah mereka menciptakan sebiji dzarrah atau sebiji benih atau sebiji gandum.” ( HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya, ”Saya melukis lukisan-lukisan ini, berilah fatwa mengenai pekerjaan saya ini !” Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Mendekatlah kepadaku !”. Orang itu mendekat tetapi Ibnu Abbas masih berkata lagi, “Dekatlah lagi kepadaku !”. Orang itu lebih mendekat lagi sampai Ibnu Abbas dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang itu lalu berkata,“Aku akan memberi tahu apa yang aku dengar dari Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wassalam , aku telah mendengar beliau bersabda :

كُلُّ مُصَوِّرٍفِي النَّارِ يُجْعَلُ لَهُ كُلَّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسٌ فَيُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ
Setiap pelukis akan masuk neraka, dan setiap lukisan yang ia lukiskan akan diberi nyawa, lalu lukisan itu akan menyiksanya di neraka jahanam.”

Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Kalau anda terpaksa harus melukis, maka lukislah pohon atau benda lain yang tidak bernyawa !” (HR. Bukhari, Muslim dan An-Nasa’i)
 Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata,”Aku telah mendengar beliau Shollallhu ‘alaihi wassalam bersabda :

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فَإِنَّ اللهَ يُعَذِّبُهُ حَتَّي يُنْفِخَ فِيْهَا الرُّوْحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيْهَا أَبَدًا
Barang siapa melukis suatu lukisan, maka Allah akan menyiksanya (di hari kiamat) hingga ia meniupkan ruh ke dalam lukisan itu tetapi ia tidak akan dapat sama sekali meniupkan ruh dalam lukisan itu “. Lalu Ibnu Abbas berkata sebagaimana di atas.

Diriwayatkan dari Aisyah radiyallahu anha. bahwasanya ia membeli sebuah bantal yang terhias dengan gambar-gambar, setelah Nabi Muhammad melihatnya, Beliau berdiri di muka pintu dan tidak mau masuk, Aisyah berkata, ”Aku mengetahui dari raut mukanya bahwa ada sesuatu yang tidak Beliau sukai.” Aku berkata, ”Ya Rasulullah aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apa dosaku ?” Beliau bersabda ,”Apakah bantal ini ?” Aku menjawab ,”Aku membelinya untukmu agar kau pakai sebagai alas dudukmu dan galang kepala” Beliau bersabda ,”Pembuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka,” Hidupkanlah apa yang kamu ciptakan“ Beliau lalu bersabda :
إِنَّ اْلبَيْتَ اَّلذِي فِيْهِ الصُّوَرُ لاَتَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ
Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar dan lukisan tidak akan dimasuki malaikat.” (H.R. Bukhari Muslim dan Ash Habussunan )

Dari Abul Hayyay Al Asadi ia berkata, ”Ali bin Abi Thalib berkata kepada saya :”Sukakah anda kuutus seperti tugas Rasulullah yang telah mengutusku, yaitu janganlah membiarkan satu lukisan melainkan hendaklah kau musnahkan, dan janganlah membiarkan suatu makam yang menonjol melainkan hendaklah kau ratakan.” (HR.Muslim)

Dari ‘Aisyah beliau berkata, “Ketika Nabi Shollallhu ‘alaihi wassalam sedang keluar ke medan perang, aku membeli sehelai kain pelangi dan kupasang pada pintu sebagai tabir, setelah Nabi kembali dan melihat kain itu, aku melihat dari raut mukanya bahwa ada sesuatu yang tidak beliau sukai. Beliau menarik kain itu hingga merobeknya. Beliau bersabda, ”Allah tidak memerintahkan kita menyelubungi batu dan pasir.” ‘Aisyah berkata lalu aku potong kain itu dan menjadikannya dua helai kain bantal. Beliau tidak mencela aku atas apa yang aku lakukan itu” (HR. Bukhari, Muslim dan Ash Habussunan )
 ’Aisyah berkata, ”Ketika Nabi Muhammad menderita sakit, salah seorang istrinya bercerita tentang sebuah gereja yang diberi nama “gereja maria”. Ummu Habibah dan Ummu Salamah sudah pernah hijrah ke Habasyah (Ethiopia) mereka menceritakan kebagusan gereja itu dan keindahan lukisan yang ada di dalamnya. Mendengar itu, Nabi mengangkat kepalanya dan bersabda, “Mereka itu, apabila salah seorang yang saleh diantara mereka meninggal dunia mereka membangun tempat peribadatan di atas makamnya, lalu dalam tempat peribadatan itu mereka lukis gambar-gambar itu, mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk Allah.” (HR.Bukhari, Muslim dan An Nasai) dan masih banyak hadits yang serupa.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.